Recent Posts

Kesulitan Makan pada Anak dan Cara Mengatasinya

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang kesulitan makan pada anak. Kesulitan makan pada anak harus dikenali dengan baik, sehingga penanganan dan dampak dari kesulitan makan dapat dicegah.

Gambar 1. Anak dapat mengalami gangguan makan.

Makan merupakan kegiatan penting yang terus dilakukan setiap hari oleh manusia. Kesulitan makan dialami oleh 25-40% anak-anak. Masalah yang paling sering dijumpai adalah kolik, muntah serta menolak untuk makan. Anak dengan kesulitan makan dapat mengalami kegagalan pertumbuhan dan mengidap penyakit kronis. Beberapa permasalahan tersebut dapat saja bersifat sementara, tetapi gangguan makan lainnya (seperti menolak untuk makan yang terjadi pada 3-10% anak) cenderung persisten, sehingga membawa konsekuensi terhadap status kesehatan anak.

Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpanangan atau kelainan yang sedang terjadi pada tubuh anak.

Pada dasarnya, kesulitan makan pada anak dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori yaitu :
Kelainan struktural, kelainan neurodevelopmental dan kelainan perilaku makan, walaupun antara masing-masing kategori tersebut dapat terjadi tumpang tindih.
Kelainan Struktural :
1. Kelainan pada Naso-orofaring : Atresia choana, celah pada bibir atau palatum, sequence Pierre Robin, makroglosia, ankiloglosia.
2. Kelainan pada laring dan trakea : celah pada laring, kista laring, stenosis subglotis, laringo trakeomalacia
3. Kelainan pada esofagus : fistula trakeoesofagus, atresia/stenosis esofagus kongenital, struktur esofagus

Kelainan Neurodevelopmental :
1. Palsi serebral
2. Malformasi Arnold-Chiari
3. Myelomeningocele
4. Disautonomia familial
5. Distropi/miopati otot
6. Sindrom mobius
7. Distropi miotonus kongenital
8. Miastenia gravis
9. Distropi okulofaringeal

Kelainan Perilaku Makan :
1. Gangguan makan pada fase regulasi (0-2 bulan)
2. Gangguan makan resiprositas (2-6 bulan)
3. Anoreksia infantil (6 bulan - 3 tahun)
4. Aversi sensori
5. Gangguan makan terkait kondisi medis (comorbidities)
6. Gangguan makan paska trauma

Kesulitan makan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :
  1. Kelainan kebiasaan makan
  2. Kelainan psikologis
  3. Kelainan organik, misalnya : kelainan gigi-geligi/rongga mulut, kelainan pada saluran cerna, penyakit infeksi secara umum, kelainan non-infeksi, penyakit lainnya misalnya tumor willms.
Secara fisiologis, mekanisme menelan terdiri dari beberapa fase :
  1. Fase persiapan oral
  2. Fase oral
  3. Fase faringeal
  4. Fase oesofageal 
 Ada 5 elemen kunci untuk mengevaluasi kesulitan makan pada anak :
  1. Bagaimana manifestasinya?
  2. Apakah anak sedang menderita penyakit tertentu?
  3. Apakah telah mempengaruhi berat badan dan pertumbuhan anak?
  4. Bagaimana kondisi emosi anak?
  5. Apakah ada stress bermakna dalam keluarga? 
Secara umum, gejala kesulitan makan pada anak dapat timbul antara lain karena :
  1. Permasalahan pada mengunyah dan menelan
  2. Spillage (makanan yang tercecer dari mulut) yang disebabkan oleh kegagalan mengontrol lidah
  3. Pilih-pilih makanan (picky eater)
  4. Makanan dilepeh
  5. Penolakan makanan (food refusal)
  6. Jangka waktu pemberian makan yang meningkat, yaitu lebih dari 45 menit
  7. Tanda kelelahan dan penurunan kesadaran
  8. Kesukaran menelan cairan, makanan lunak, semi-solid dan makanan padat
  9. Tanda distres pernafasan selama pemberian makan, yakni perubahan pola pernafasan normal, bernafas dengan usaha, tanda kelelahan selama pemberian makan
  10. Tanda aspirasi, yaitu : penyumbatan, batuk dan tersedak makanan atau cairan, distres pernafasan, mencakup stridor dan wheezing. 
Dampak kesulitan makan dibagi menjadi 2 yaitu : Dampak jangka pendek dan Dampak jangka panjang
  • Dampak jangka pendek diantaranya : sinus bradikardia, inversi gelombang T, depresi ST, interval QT memanjang, disritmia dengan ventrikular takikardia, motilitas gastrointestinal yang lambat dan konstipasi, gambaran fungsi hati yang abnormal, peningkatan kadar urea darah, serta peningkatan risiko terbentuknya batu ginjal, lekopenia, anemia defisiensi besi dan trombositopenia.
  • Dampak jangka panjang diantaranya : pubertas terlambat, pertumbuhan terlambat dan perawakan pendek, gangguan pembentukan mineral tulang (osteopenia, osteoporosis), gangguan psikologis (cemas dan depresi).
Penatalaksanaan kesulitan makan pada anak
  • Rawat jalan. Hal-hal yang dapat dilakukan : Menetapkan jadwal makan dan menaati jadwal tersebut. anak duduk selama makan, waktu pemberian makan dibatasi selama sekitar 15 sampai 20 menit. Menghindari pengalihan perhatian, seperti mainan atau televisi sepanjang waktu makan. Menawarkan jumlah materi makanan yang terbatas untuk masing-masing makanan. Menawarkan sedikit cairan/minuman saja, setalah anak memulai makan. Penawaran susu hanya diberikan setelah makan diselesaikan. Tidak memberikan sari buah atau penganan di tengah waktu makan. Tidak menawarkan makanan apa pun sampai jadwal makanan berikutnya. Jangan memaksa anak untuk makan. Cobalah untuk tetap tenang. Perasaan netral akan berpengaruh lebih baik, dibandingkan pernyataan frustasi atau kegembiraan yang berlebihan. Pada permasalahan anak-anak yang lebih rumit, suatu pendekatan tim dapat direkomendasikan.
  • Intervensi gizi. Jika anak mengalami kurang gizi, perlu dilakukan koreksi gizi sebelum dilakukan modifikasi perilaku. Status gizi anak harus dinilai, jika status gizi kurang, maka diperlukan penilaian kebutuhan energi.
  • Rawat inap. Kriteria rawat inap untuk anak dengan kesulitan makan : Kurang dari 75% berat badan ideal, atau penurunan berat badan yang berkelanjutan. Penolakan untuk makan. Lemak tubuh <10%. Denyut jantung <50x per menit siang hari; <45x per menit pada malam hari. Tekanan sistolik < 90 mmHg. Perubahan denyut nadi ortostatik <20 x/menit atau tekanan darah >10 mmHg, Temperatur <35,5, Aritmia, Sinkope, Kalium serum konsentrasi <3,2 mmol/L, Klorida serum konsentrasi <88 mmol/L, Refluks esophageal berat, Hipotermia, Risiko bunuh diri, Hematemesis, Kegagalan terhadap perawatan rawat jalan. 
Demikian, sekilas tentang kesulitan makan pada anak. Kesulitan makan bukan merupakan suatu diagnosis, melainkan merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi dalam tubuh anak. Sebagai orang tua, hal tersebut perlu diketahui dan segera dilakukan intervensi atau tindakan. Sebaiknya konsultasikan kepada dokter anda apabila mengalami gangguan-gangguan tersebut. Apabila ada hal yang ingin ditanyakan, silakan isi dalam kolom komentar. Terima kasih.

Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat pada kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak sehingga dengan mengetahui faktor-faktor tersebut, kita dapat mencetak seorang anak yang dapat tumbuh kembang secara optimal.

Gambar 1. Genetik sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Secara umum terdapat 2 faktor utama yang berpengaruh terahdap tumbuh kembang anak, yaitu :
1. Faktor Genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar dan mempunyai peran utama dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Yang termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa. Potensi genetik yang baik, bila berinteraksi dengan lingkungan yang positif, akan membuahkan hasil yang optimal. Gangguan pertumbuhan di negara maju lebih sering disebabkan oleh faktor genetik ini, misalnya kelainan bawaan yang disebabkan oleh kelainan kromosom seperti sindrom down, sindrom turner dan lain sebagainya. Namun, di negara berkembang, gangguan pertumbuhan selain disebabkan oleh faktor genetik, juga disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang kondusif untuk tumbuh kembang anak,seperti penyakit infeksi, kurang gizi, penelantaran anak dan sebagainya, yang juga berdampak terhadap tingginya angka kematian bayi dan anak.
2. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai tidaknya potensi genetik. Lingkungan yang baik akan memungkinkan tercapainya potensi genetik, sedangkan yang tidak baik akan menghambatnya. Lingkunga ini merupakan lingkungan biofisikopsikososial yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.

FAKTOR LINGKUNGAN
Secara garis besar, faktor lingkungan dibagi menjadi 3, yaitu :
- Pranatal
- Perinatal
- Paskanatal

Pada kesempatan kali ini, kami akan berfokus pada faktor paskanatal. Paskanatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak diantaranya : Faktor Biologis, Faktor Lingkungan Fisik, Faktor Psikososial, Faktor Keluarga dan Adat Istiadat
A. Faktor Biologis meliputi :

  1. Ras/Suku Bangsa
  2. Jenis Kelamin. Dikatakan bahwa anak laki-laki lebih sering sakit dibandingkan dengan anak perempuan, kemungkinannya adalah faktor kromosom (xx pada laki-laki dan xy pada perempuan)
  3. Umur
  4. Gizi
  5. Perawatan Kesehatan
  6. Kerentanan terhadap Penyakit
  7. Kondisi Kesehatan Kronis
  8. Fungsi Metabolime
  9. Hormon
B. Faktor Lingkungan Fisik meliputi :
  1. Cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah
  2. Sanitasi
  3. Keadaan rumah : Struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian
  4. Radiasi
C. Faktor Psikososial
  1. Stimulasi
  2. Motivasi belajar
  3. Ganjaran ataupun hukuman yang wajar (reinforcement/reward and punishment)
  4. Kelompok sebaya
  5. Stress
  6. Sekolah
  7. Cinta dan kasih sayang
  8. Kualitas interaksi anak dan orang tua
D. Faktor Keluarga dan Adat Istiadat
  1. Pekerjaan/pendapatan keluarga
  2. Pendidikan ayah/ibu
  3. Jumlah saudara
  4. Jenis kelamin dalam keluarga
  5. Stabilisasi rumah tangga
  6. Kepribadian ayah/ibu
  7. Pola pengasuhan
  8. Adat istiadat, norma, tabu
  9. Agama
  10. Urbanisasi
  11. Kehidupan politik
Demikian faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak. Pembahasan lebih detail akan kami bahas dalam postingan-postingan selanjutnya. Jika ada hal yang ingin ditanyakan, silakan masukkan dalam kolom komentar. Terima kasih.

Mengenal nCoV-2019 Lebih Jauh dan Cara Pencegahannya

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, virus corona atau lebih akrab dengan nCoV-2019 yang sempat membuat heboh dunia, perlu dikenali sekaligus diwaspadai bersama. Namun, jika kita mengetahui seluk beluk virus ini serta bagaimana virus dapat menyerang dan dapat membahayakan bagi kita, kita akan lebih aware namun tidak panih yang berlebihan. Berikut penjelasannya.

Gambar 1. Kelelawar menjadi salah satu vektor penyebab penyebaran nCoV-2019.

Virus secara umum merupakan kuman yang akan lebih mudah mati jika berada di luar sel, artinya virus tersebut bakal gampang mati kalau keluar dari tubuh ke lingkungan bebas. Rentang waktu virus tahan di luar sel maksimal hanya 24 jam saja. Selain tempat, virus juga rentang dengan suhu tinggi serta virus akan mudah mati jika dieliminasi dengan air.

Pertanyaan yang sering muncul adalah, kenapa ada virus "ganas" yang muncul di Wuhan ? Karena di Wuhan ada pasar yang jual hewan-hewan, semisal kelelawar. nCoV-2019 merupakan virus Zoonosis, yaitu virus yang asalnya dari hewan, seperti MERS, SARS, Flu burung. Diduga virus ini awalnya menyebar antara hewan ke manusia lalu selanjutnya dari manusia ke manusia. Meskipun demikian, penyebaran dari hewan ke manusia masih belum jelas alurnya.

Apa yang bisa kita petik dari fakta di atas? Bagi sobat yang mempunyai hewan peliharaan, hati-hati ya, selalu jaga kebersihan dan kesehatan hewan peliharaan kamu.

nCoV-2019 merupakan jenis virus, bukan bakteri. Bedanya adalah :
Jika virus, ukurannya lebih kecil yaitu : 20-40 nm, tidak bisa berkembang biak atau memperbanyak diri tanpa sel inang.
Sedangkan bakteri, ukurannya antara 200 sampai 1000 nm, bisa berkembang biak sendiri, tidak membutuhkan sel inang untuk tumbuh.
Virus ini menyebar sangat cepat ke seluruh bagian dunia, namun tingkat kematiannya 2%, angka tersebut termasuk rendah jika dibandingkan dengan MERS yang hingga 34 %. Jadi, virus ini infeksius namun tidak mematikan. Adapun pasien yang terinfeksi yang meninggal mayoritas adalah pasien yang pada awalnya memang memiliki riwayat penyakit kronis lainnya.

Berdasarkan analisis terhadap 99 orang pasien terinfeksi, orang yang terkena virus ini rata-rata berumur 55 tahun dan memiliki kontak yang lama dengan pasar di Wuhan. Sehingga, jika sehat lalu terinfeksi, kemungkinan buat recovery nya tinggi.

Hasil gambar untuk coronavirus pathophysiology
Gambar 2. Patofisiologi nCoV-2019

Bagaimana caranya virus masuk ke dalam tubuh kita? Virus nCoV-2019 masuk ke sel kita karena "mahkota" nya dia cocok sama reseptor yang ada di sisi kita. Reseptor yang mengenali "spike" nCoV ini namanya reseptor ACE2. Reseptor ini banyak ditemukan di sel dalam sistem pernafasan kita, oleh karenanya virus ini menyerang sistem pernafasan kita. Namun demikian, ada kasus di Amerika bahwa pasien yang positif nCoV ini memiliki gejala bukan dari sistem pernafasan melainkan dari diare dan ternyata reseptor ACE2 juga ada di dalam sistem pencernaan. Oleh karena itu, gejalanya bukan hanya gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan saja, namun bisa juga gejala diare.

Lalu bagaimana cara mencegah dan mengatasi virus tersebut? Jaga dan tingkatkan imunitas tubuh kita, karena secara normal kalau ada virus masuk ke dalam tubuh kita, sel imun kita berperan sebagai "prajurit" yang akan berperang melawan virus tersebut. Supaya prajurit kita menang, kita harus jaga sistem imun kita menang, kita harus jaga sistem imun kita dengan cara menjaga kesehatan kita. Oleh karena itu, makan makanan sehat, bergizi dan olahraga penting banget buat bikin badan tetap bugar, jadi meminimalisasi kemungkinan kita buat sakit. Kesimpulannya bahwa jika virus masuk ke dalam tubuh kita saat tubuh kita sehat, kita bisa bertahan dan tidak sakit parah.

Oleh karenanya, dalam menghadapi nCoV ini, kita harus tetap waspada, namun janga panik. Tetap lakukan pencegahan yang bisa dilakukan, tapi jangan sampai ketakutan yang berlebihan. Sekian, jaga selalu kesehatan dan terima kasih.

Konsep Perkembangan Bahasa Seorang Anak

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, bahasa merupakan salah satu perkembangan yang perlu menjadi perhatian, dalam hubungannya seorang anak berkomunikasi dengan yang lain. Perkembangan bahasa yang buruk bisa menjadi salah satu indikator gangguan perkembangan seorang anak, sehingga pengenalan lebih dini gangguan tersebut serta intervensi yang sesuai dapat membantu mengatasi gangguan perkembangan tersebut.


Bayi baru lahir mampu menyatakan kebutuhan dan keinginannya dalam bentuk yang mudah dipahami oleh orang lain, juga belum mampu memahami kata atau isyarat yang digunakan oleh orang lain. Ketidak berdayaan ini berkurang dengan cepat pada awal tahun kehidupan, pada waktu anak sudah dapat mengendalikan organ-organ tubuh yang diperlukan bagi berbagai mekanisme komunikasi.

Seperti halnya perkembangan yang lainnya, tahun-tahun pertama kehidupan sangat penting dalam perkembangan bicara anak. Landasan untuk perkembangan bahasa terletak pada masa kehidupan ini.

Definisi
Banyak orang yang mempertukarkan istilah bicara (speech) dengan bahasa (language), padahal kedua istilah tersebut tidaklah sama.
Bahasa adalah suatu sistem komunikasi yang digunakan dengan sukarela dan secara sosial disetujui bersama, dengan menggunakan simbol-simbol tertentu untuk menyampaikan dan menerima pesan dari satu orang ke orang lain.
Bicara adalah bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi atau kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan maksud.
Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk mengerti, termasuk ketrampilan visual (reading, sign language, language comprehension) dan auditory (listening comprehension).
Bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk memproduksi simbol komunikasi, luaran ini dapat juga berupa visual (writing, signing) atau auditory (speech).
Perkembangan Bahasa Normal
Hemisfer kiri merupakan pusat kemampuan berbahasa pada 94% orang dewasa kinan dan lebih dari 75% pada orang dewasa kidal. Terdapat 3 area utama pada hemisfer kiri anak yang khusus untuk berbahasa, yaitu : area Broca, korteks motorik di bagian anterior dan area Wernicke di bagian posterior.

Kemampuan bahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak, karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kelainan pada sistem lainnya, seperti kemampuan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi dan lingkungan di sekitar anak. Menurut teori neuropsikolinguistik, berbahasa adalah interaksi yang kompleks antara fungsi otak (korteks serebri), semantik dan fragmantik, fonologi, grammar dan organ yang memproduksi suara. Bila salah satu mengalami masalah, akan terjadi gangguan bicara.

Untuk diagnosis gangguan bicara, kita harus mengetahui milestones perkembangan bicar ayang normal terlebih dahulu. Pengetahuan yang luas tentang perkembangan bahasa yang normal pada anak adalah mutlak apabila kita mencari/meneliti keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa.

Untuk menganalisis bahasa dan untuk mendefinisikan kelainan bahasa, sebagian besar para ahli bahasa membagi kemampuan berbahasa menjadi 4 bidang, yaitu : fonologi, tata bahasa/grammar, semantika dan pragmatika :
  1. Fonologi. Fonologi adalah kemampuan untuk memproduksi dan membedakan bunyi yang spesifik pada bahasa tertentu.
  2. Tata bahasa. Tata bahasa merupakan aturan-aturan pada bahasa tertentu. Anak mulai belajar tatabahasa bila mereka mulai belajar bicara tentang benda, orang dan aktivitas.
  3. Semantika. Semantika adalah belajar mengenai arti kata, termasuk tentang perbendaharaaan kata-kata dan jumlah kata-kata yang diketahui anak. Jumlah perbendaharaan kata-kata dapat menjadi prediktor terhadap kesuksesan anak di sekolah kelak.
  4. Pragmatika. Pragmatika berhubungan dengan kemampuan anak menggunakan bahasanya untuk berinteraksi dengan orang lain.
Tahapan Perkembangan Bahasa
Terdapat 5 tahapan perkembangan bahasa pada anak menurut Berry MF tahun 1973 :
1. Reflektive vocalization2. Babbling3. Lalling4. Echolalia5. True Speech


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar bicara diantaranya :

1. Persiapan fisik untuk berbicara
2. Kesiapan mental untuk berbicara
3. Model yang baik untuk ditiru
4. Kesempatan untuk berpraktik
5. Motivasi
6. Bimbingan
Demikian, konsep perkembangan bahasa pada seorang anak yang mana kita perlu mengetahui tahapan-tahapan yang dilalui dalam perkembangan bahasa seorang anak serta hal-hal yang perlu "dipersiapkan" dan diperhatikan dalam tahap perkembangan bahasa tersebut.

Perkembangan Personal Sosial Seorang Anak

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, setelah kita mengetahui perkembangan anak dalam bidang kognitif dan motorik, kita perlu tahu juga bagaimana perkembangan anak di bidang personal sosialnya, karena kemampuan personal-sosial seorang anak tidak selalu sesuai dengan kemampuan kognitifnya. Berikut penjelasan lengkapnya mengenai personal sosial anak.


Manusia adalah makhluk sosial. Mereka mencari pengalaman dalam lingkungan sosial dan berinteraksi dengan yang lain. Pada akhir tahun pertama kehidupan, manusia memperoleh banyak pengalaman dalam perkembangan personal dan sosial.

Perkembangan Personal
Pada awal kehidupannya, seorang anak mula-mula masih bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan semakin meningkatnya kemampuan melakukan gerakan motorik dan bicara, anak terdorong untuk melakukan sendiri berbagai hal. Orang tua harus melatih usaha kemandirian anak. Perkembangan personal meliputi berbagai kemampuan yang dikelompokkan sebagai : kebiasaan (habit), kepribadian, watak dan emosi.
  1. Kebiasaan (habit). Kebiasaan dibagi menjadi kebiasaan makan, tidur, kontrol sfingter dan berpakaian.
  2. Kepribadian (personality). Kepribadian adalah aspek pada seseorang yang unik untuk setiap individu dan berbeda sejak lahir. Kepribadian mempunyai struktur yang menarik untuk suatu keadaan yang menyenangkan dari insting dasar.
  3. Watak (temperament). Watak mencerminkan karakteristik gaya emosional anak dan respons tingkah laku terhadap berbagai situasi. Ini ditentukan oleh faktor genetik dan dimodifikasi oleh lingkungan.
  4. Emosi (emotions). Emosi adalah perubahan dalam arousal level, yang ditandai oleh perubahan fisiologis seperti denyut jantung atau frekuensi nafas. Perubahan tersebut menyebabkan peningkatan kemampuan mandiri dan bersosialisasi yaitu perasaan mengerti terhadap orang lain, serta belajar menunggu untuk keadaan yang menyenangkan. Beberapa emosi yang mengalami perkembangan adalah menangis, tersenyum dan tertawa, cemas, rasa iri, marah dan menyerang.
Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial merupakan perkembangan kemampuan anak untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Mula-mula anak akan mengenal orang yang paling dekat dengan dirinya, yaitu ibunya, selanjutnya orang-orang yang serumah. Bayi dikelilingi oleh suatu jejaring sosial. Proses sensori yaitu proses untuk berinteraksi dengan lingkungan dipengaruhi oleh kebutuhan sosial bayi. Kedekatan atau ikatan bayi pada orang dewasa adalah subjek menuju fase-fase perkembangan.
  • Tahap-tahap kedekatan (attachment). Saat ketrampilan perseptif visual dan auditori mulai matur, umumnya terjadi suatu fenomena misalnya : Suara dan wajah ibu secara bertahap dibedakan oleh bayi. Bayi bisa membedakan suara ibunya dari suara orang lain.
  • Kedekatan sosial. Kedekatan sosial dibagi 2, yaitu : Kedekatan sosial dengan anak-anak dan kedekatan sosial dengan orang dewasa
  • Kedekatan dengan benda mati. Kedekatan dengan benda mati seperti mainan yang enak dipeluk adalah suatu tahap perkembangan yang penting yang mencerminkan transisi antara realitas internal dan eksternal.
Milestone perkembangan personal-sosial lebih bervariasi daripada perkembangan motorik dan kognitif, karena perkembangan personal-sosial lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan (pengasuhan).

Demikian perkembangan personal-sosial pada Anak, dengan memahami dan melakukan screening sedini mungkin perkembangan tersebut, diharapkan gangguan perkembangan personal-sosial dapat dicegah.

Konsep Perkembangan Motorik

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, pada bahasan kali ini, kami akan membahas masalah perkembangan motorik pada anak. Bagaimana prinsip perkembangannya dan milestone perkembangan motorik akan dibahas dibawah ini.


Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan kontrol pergerakan badan melalui koordinasi aktivitas saraf pusat, saraf tepi dan otot. Kontrol pergerakan ini muncul dari perkembangan refleks-refleks yang dimulai sejak lahir. Anak menjadi tidak berdaya sampai perkembangan ini muncul.

Perkembangan motorik mencerminkan mielinisasi pada traktus kortikospinal, traktus piramidal dan traktus kortikobulbar. Perkembangan motorik dibagi menjadi 2, yaitu perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Perkembangan motorik kasar melibatkan otot-otot besar, meliputi perkembangan gerakan kepala, badan, anggota badan, keseimbangan dan pergerakan. Sedangkan motorik halus adalah koordinasi halus yang melibatkan otot-otot kecil yang dipengaruhi oleh matangnya fungsi motorik, fungsi visual yang akurat dan kemampuan intelek nonverbal.

Prinsip Perkembangan Motorik
Terdapat 5 prinsip perkembangan motorik, yaitu :
1. Perkembangan motorik tergantung pada maturasi saraf dan otot. Perkembangan aktivitas motorik yang berbeda, sejalan dengan perkembangan area sistem saraf yang berbeda.
2. Belajar keterampilan motorik tidak bisa terjadi sampai anak siap secara matang. Tidak ada gunanya mencoba mengajarkan gerakan keterampilan anak sebelum sistem saraf dan otot berkembang dengan baik.
3. Perkembangan motorik mengikuti pola yang dapat diprediksi. Perkembangan motorik mengikuti arah hukum perkembangan. Arah perkembangan anak berlangsung secara sefalokaudal dan proksimodistal, yakni perubahan dari gerakan menyeluruh menuju aktivitas yang spesifik.
4. Pola perkembangan motorik dapat ditentukan. Anak akan belajar duduk sebelum belajar berjalan dan tidak mungkin arahnya dibalik.
5. Kecepatan perkembangan motorik berbeda untuk setiap individu. Perkembangan motorik mengikuti suatu pola yang sama, tetapi umur untuk mencapai tahap-tahap perkembangan tersebut berbeda untuk setiap individu.

Milestone Perkembangan Motorik Kasar
Berikut milestone perkembangan motorik kasar menurut Lipkin tahun 2009 :
Secara berututan mulai dari kemampuan motorik kasar -- Umur rata-rata (Bulan) -- Red Flag (Bulan)
1. Berguling dari telungkup ke terlentang -- 3,6 Bulan -- 6-8 Bulan
2. Berguling dari telentang ke tengkurap -- 4,8 Bulan -- 9 Bulan
3. Duduk disokong -- 5,3 Bulan -- 6 Bulan
4. Duduk tanpa disokong -- 6,3 Bulan -- 8-10 Bulan
5. Merayap -- 6,7 Bulan
6. Duduk dari posisi berbaring -- 7,5 Bulan
7. Merangkak -- 7,8 Bulan -- 12 Bulan
8. Berdiri berpegangan dari posisi duduk -- 8,1 Bulan -- 12 Bulan
9. Berjalan pegangan meja (merambat) -- 8,8 Bulan
10. Jalan tanpa berpegangan -- 11,7 Bulan -- 15-18 Bulan
11. Jalan ke belakang -- 14,3 Bulan
12. Berlari -- 14,8 Bulan -- 21-24 Bulan

Milestone Perkembangan Motorik Halus
Berikut milestone perkembangan motorik halus menurut Lipkin tahun 2009 :
Secara berututan mulai dari kemampuan motorik kasar -- Umur rata-rata (Bulan) -- Red Flag (Bulan)
1. Tidak mengepal -- 2,7 Bulan -- 4 Bulan
2. Memainkan jari-jemari ke arah garis pertengahan tubuhnya -- 3 Bulan
3. Memindahkan benda melewati garis pertengahan tubuhnya -- 4,1 Bulan -- 6-8 Bulan
4. Menggenggam dengan seluruh tangan -- 4,7 Bulan
5. Overhand raking grasp -- 5,7 Bulan
6. Menjimpit dengan 3 jari -- 7,8 Bulan
7. Memilah-milah dengan jari -- 9,4 Bulan
8. Menjepit dengan 2 jari -- 9,9 Bulan -- 12 Bulan
9. Melepaskan objek sesuai keinginan -- 11 Bulan-15 Bulan
10. Membuat bentuk titik-titik dengan krayon -- 11,5 Bulan
11. Memasukkan 10 kubus ke dalam gelas -- 16 Bulan
12. Mencorat-coret -- 17,5 Bulan
13. Menumpuk 3 kubus ke atas -- 21,3 Bulan - 24 Bulan
14. Membangun rangkaian balok secara horisontal -- 22,3 Bulan
15. Membangun jembatan dengan 3 kubus -- 31,1 Bulan
16. Menggambar lingkaran -- 32,6 Bulan
17. Menggambar orang dengan kepala ditambah 1 bagian tubuh lainnya -- 35,7 Bulan 

Keterangan : Red Flag adalah batasan umur pencapaian tahap perkembangan anak yang mengkhawatirkan jika pada umur tersebut, anak belum mampu mencapai tahap perkembangan tersebut.

Demikian, sekilas tentang perkembangan motorik pada anak, untuk lebih lengkap dan jelasnya, silakan disimak penjelasan dalam video youtube kami. Jika ada hal yang kurang jelas, silakan disampaikan dalam kolom komentar. Terima kasih.


Perkembangan Kognitif Anak

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, pada kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang perkembangan kognitif pada anak, perkembangan kognitif tentu saja sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan otak serta tahap-tahap perkembangannya, dan tentu saja sebagai seorang yang ingin mengoptimalkan kognitif seorang anak, perlu mengetahuinya dengan jelas.


Seorang anak dapat tumbuh sehat dan cerdas karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor genetik, nutrisi dan stimulasi merupakan faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang janin dan anak, terutama otaknya. Nutrisi yang penting tersebut diantaranya : LCPUFA (Long-chain polyunsaturated fatty acids) seperti AA (Arachidonic acid) dan DHA (decosahexaenoic acid), kolin, taurin, iodium dan zat besi.

Pertumbuhan Otak Anak
Otak manusia mengalami pertumbuhan pesat sejak masa di dalam kandungan sampai beberapa bulan setelah lahir. Pertumbuhan otak tercepat terjadi pada trimester ketiga kehamilan sampai 2 tahun pertama setelah lahir. Pada masa ini, terjadi pembelahan sel-sel otak yang pesat, setelah itu pembelahan melambat dan terjadi pembelahan sel-sel otak saja, sehingga pada waktu lahir berat otak bayi 1/4 berat otak dewasa, tetapi jumlah selnya sudah mencapai 2/3 jumlah sel otak orang dewasa. Pada usia 2 tahun, ukuran otak anak sudah mencapai 80% dari ukuran otak orang dewasa, selanjutnya otak akan terus berkembang setelah umur 2 tahun dengan perkembangan yang lebih lambat.

Masa pesat perkembangan jaringan otak adalah masa yang rawan. Setiap gangguan pada masa itu akan menyebabkan gangguan jumlah sel otak dan mielinisasi yang tidak bisa dikejar lagi pada masa pertumbuhan berikutnya.

Tahap-tahap Perkembangan Kognitif (Piaget)
Menurut Jean Piaget, terdapat 4 tahap perkembangan kognitif seseorang :

  1. Tahap Sensorimotor (0-24 Bulan). Pada tahap ini, seorang anak memahami dunianya melalui gerak dan inderanya, serta mempelajari permanensi objek.
  2. Tahap Praoperasional (2-7 Tahun). Selama tahap ini, anak memiliki kecakapan motorik, proses berfikir anak-anak juga berkembang, meskipun mereka masih dianggap "jauh" dari logis.
  3. Tahap Operasional Konkret (7-11 Tahun). Pada tahap operasional konkrit ini, anak mulai berfikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkrit, proses berfikir menjadi lebih rasional, matang dan seperti dewasa atau lebih operasional.
  4. Tahap Operasional Formal (Mulai umur 11 Tahun). Pada tahap ini, anak telah berkembang penalaran abstrak dan imajinasi pada anak. 
Selanjutnya, tahap-tahap tersebut akan dijabarkan dalam milestone perkembangan kognitif anak yang berdasarkan pada umurnya. Mulai umur 0-3 bulan, 3-6 bulan, 6-9 bulan, 9-12 bulan, 12-18 bulan, 18-24 bulan, 24-36 bulan, 36-48 bulan, 48-60 bulan, 60-72 bulan, dimana pada masing-masing milestone tersebut seorang anak memiliki pola yang hampir sama, meskipun dalam praktiknya bisa berbeda.

Untuk lebih jelasnya, silakan mendengarkan video channel youtube kami di bawah ini. Terima kasih.



Konsep Dasar Tumbuh Kembang Anak

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, tumbuh kembang anak sering kita dengar sehari-hari, namun fahamkah kita rahasia apa dibalik tumbuh kembang anak sehingga kita dapat mengoptimalkan setiap potensi yang ada pada si buah hati? berikut konsep dasar mengenai tumbuh kembang pada anak yang perlu kita ketahui.



Anak tentu saja merupakan dambaan setiap keluarga, selain merupakan dambaan, anak juga diharapkan dapat tumbuh dan kembang secara optimal (baik secara fisik, mental/kognitif dan sosial), sehingga dapat dibanggakan serta berguna bagi nusa dan bangsa. Sebagai aset bangsa, anak harus mendapatkan perhatian khusus sejak mereka masih di dalam kandungan sampai mereka menjadi manusia dewasa.

Secara umum, tumbuh kembang merupakan suatu proses yang berkesinambungan, dimana terjadi sejak konsepsi dan terus berlangsung sampai dewasa. Dalam proses mencapai dewasa inilah, anak harus melalui berbagai tahap tumbuh kembang. Tercapainya tumbuh kembang optimal tergantung pada potensi biologik. Tingkat tercapainya potensi biologik seseorang merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan bio-fisiko-psikososial (biologis, fisik dan psikososial). Proses ini sangat unik dan hasil akhir yang berbeda-beda memberikan ciri tersendiri pada setiap anak.

Pertumbuhan (Growth) adalah perubahan yang bersifat kuantitatif, yakni bertambahnya jumlah, ukuran, dimensi pada tingkat sel, organ, maupun individu. Anak tidak hanya bertambah besar secara fisik, namun juga bertambah secara ukuran dan struktur organ-organ tubuh dan otak.

Perkembangan (Development) adalah bertambahanya kemampuan (skill) struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan/maturitas.

Ciri-ciri tumbuh kembang menurut Hurlock EB :
  1. Perkembangan melibatkan perubahan
  2. Perkembangan awal lebih kritis daripada perkembangan selanjutnya
  3. Perkembangan adalah hasil dari maturasi dan proses belajar
  4. Pola perkembangan dapat diramalkan
  5. Pola perkembangan mempunyai karakteristik yang dapat diramalkan
  6. Terdapat perbedaan individu dalam hal perkembangan
  7. Terdapat periode/tahapan pada pola perkembangan
  8. Terdapat harapan sosial untuk setiap periode perkembangan
  9. Setiap area perkembangan mempunyai potensi risiko
Tahapan umur tumbuh kembang utama pada anak :
  • Masa Pranatal (Dari konsepsi sampai lahir)
  • Masa Bayi dan Masa Anak Dini (Dari lahir sampai umur 3 tahun)
  • Masa Prasekolah (3 sampai 6 tahun)
  • Masa Praremaja (6 sampai 12 tahun)
  • Masa Remaja (12 sampai sekitar 20 tahun)
Kebutuhan dasar anak menurut Titi 1993 adalah sebagai berikut :
  1. Kebutuhan fisik-biomedis (Asuh)
  2. Kebutuhan emosi/kasih sayang (Asih)
  3. Kebutuhan akan stimulasi mentah (Asah)
Demikian sekilas tentang konsep dasar tumbuh kembang anak, untuk lebih jelasnya, silakan simak pada channel youtube kami dibawah ini. Selamat mendengarkan dan semoga bermanfaat. Terima kasih.





Fenomena Sindroma Fragile-X (Fraxa)

Fenomena Sindroma Fragile-X (Fraxa)

Add Comment

rebutanbalung.com - Sobat sehat, pada kesempatan kali ini kami akan membahas salah satu penyebab dari penyakit Retardasi Mental (RM) pada Anak yaitu Sindroma Fragile-X atau Fraxa. Apa dan bagaimana fraxa ini menjadi salah satu penyebab Retardasi Mental, berikut penjelasannya.

Hasil gambar untuk fragile x jurnal
Gambar 1. Pola Kromosom pada Fraxa.
Retardasi Mental (RM)
RM merupakan suatu gangguan, dimana intelektualnya berada di bawah rata-rata dan ia mengalami gangguan dalam keterampilan adaptif yang ditemukan sebelum orang berusia 18 tahun.

RM umumnya terjadi pada laki-laki, umumnya karena terkait kromosom X (RMX : X-Linked Mental Retardation). RMX dibagi 2 kelompok besar yaitu : RMX Sindromik (Dimana RM yang disertai kelainan fenotipik yang khas seperti gambaran dismorfik, gejala neuromuscular)dan dan RMX nonspesifik (hanya RM saja). Dalam kelompok RMX sindromik termasuk : Sindroma fragile X, sindroma Coffin-Lowry dan Sindroma Rett.

RMX yang paling sering dijumpai adalah sindroma Fragile-X (FRAXA). Sindroma ini menempati tempat kedua setelah sindroma Down sebagai penyebab RM yang disebabkan faktor genetik. Sekitar 30% penderita sindroma ini menunjukkan gejala autisme, dan sebagian kecil lainnya disertai kelainan perilaku berupa sindroma hiperaktivitas.

Sindroma Fragile-X (Fraxa)
Sindroma fraxa pertama kali dilaporkan oleh Martin dan Bell (1943) yang me-nemukan adanya penderita RM dengan fenotipe yang khas: teli-nga besar dan menonjol, dagu dan dahi memanjang, dan dise-but sebagai “Sindroma Martin & Bell”.

Definisi
Fraxa merupakan penyebab disabilitas mental baik pada laki-laki maupun perempuan. Kelainan ini diturunkan secara terangkai-X (X-linked). Fraxa ini dapat mengenai laki-laki dan perempuan (jadi, perempuan dapat terkena penyakit ataupun sebagai karier).

Sindroma ini meliputi kombinasi kelainan fisik dan behaviour yang khas disertai adanya daerah fragile pada lengan panjang kromosom X. Fragilitas tersebut merupakan akibat dari mutasi dari gen spesifik pada kromosom X.

Insidensi
Sindroma fragile X merupakan salah satu kelainan genetik yang tersering sebagai penyebab RM, dan menempati tempat kedua setelah sindroma Down. Sindroma ini juga merupakan penyebab tersering RM familial dan kelainan perilaku (termasuk autism dan sindroma hiperaktivitas).

Menurut Reiss dan Freund tahun 1990, pada perempuan, prevalensi abnormalitas kromosom adalah sekitar 1 per 500. Sebagian besar laki-laki yang terkena cenderung mengalami kelainan sedang sampai berat (walaupun terdapat pula laki-laki sehat dengan kromosom abnormal), sedangkan sebagian besar wanita mengalami kelainan lebih ringan (walaupun sepertiganya mempunyai IQ di bawah 70).

Di Indonesia, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sultana MH Faradzh dari Semarang, ditemukan sekitar 2% sindroma Fragile-X di antara seluruh anak laki-laki dengan gangguan perkembangan di Jawa Tengah, dan 2,5% di antara anak laki-laki dengan gangguan perkembangan di SLB-C di Kotamadya Semarang, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Cilacap.

Patogensis
Patogenesis ataupun dasar mekanisme genetik dari kelainan ini belum jelas diketahui. Sindroma fragile X merupakan suatu keadaan unik dimana terjadi transmisi genetik MR secara terikat kromosom X (X linked), sehingga laki-laki yang terkena mengalami fragilitas pada bagian distal kromosom X.

Fragilitas ini tampak dengan frekuensi tinggi bila sel di kultur pada media dengan defisiensi timidin, dan frekuensi nya bertambah bila pada media tersebut ditambahkan 5-fluoro-deoxiuridin yang merupakan suatu timidilat sintetase inhibitor.

Sindroma fragile X memperlihatkan pola herediter X linked, dimana tidak pernah terjadi transmisi dari laki-laki ke laki-laki. Tetapi berlainan dengan penyakit lain yang diturunkan secara X linked resesif, pada sindroma ini baik laki-laki maupun wanita dapat mengalami kelainan klinik. Pola ini tidak sesuai untuk kelainan X linked, dimana biasa-nya fenotip akan manifest pada laki-laki yang membawa gen mutan. Pola ini dikenal sebagai “Sherman paradox”.

Dasar dari Sherman paradox dan fragilitas kromosom X telah menjadi jelas sejak gen penyebab sindroma fragile X ber-hasil diklon. Gen ini adalah FMR-1 (fragile X mental retardation 1) yang diekspresikan dengan level yang tinggi pada neuron.

Sherman paradox dapat dijelaskan dengan mekanisme transisi dari melalui premutasi. Alel premutasi bersifat tidak stabil dan dapat mengalami ekspansi menjadi mutasi penuh pada generasi berikutnya, di mana ekspansi menjadi mutasi penuh ini tidak terjadi pada laki-laki. Jadi Sherman paradox dijelaskan dengan adanya premutasi pada laki-laki asimptomatik yang meneruskannya kepada anak-anak perempuannya, yang kemudian menurunkan mutasi penuh kepada beberapa individu dari keturunannya.

Walaupun mutasi gen FMR-1 diketahui berhubungan dengan kelainan neurobehavio-ral spesifik, tetapi fungsi dari produk gen tersebut yaitu FMRP (FMR Protein) belum jelas diketahui. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa FMRP berhubungan dengan jumlah dan panjang dendrit neuron hipokampus. Binatang dengan FMRP yang jumlahnya sedikit ternyata neuron hipokampusnya memiliki hubungan sinaptik yang lebih sedikit daripada kontrol.

Hasil gambar untuk fragile x jurnal
Gambar 2. Pola mutasi Fraxa.

Gambaran Klinis
Gambaran klinis yang tipikal dari sindroma fragile X adalah retardasi mental. “Developmental milestone” terlambat, termasuk motorik kasar dan bahasa. Skor IQ pada laki-laki yang terkena biasanya kurang dari 70. Selain itu terdapat kelainan behaviour yang dapat mirip/berupa autism atau Attention Deficit Disorder (ADD), dan kelainan somatik. Sebagian penderita sindroma fragile-X tidak memper-lihatkan abnormalitas fisik yang nyata, terutama pada masa kanak-kanak dini.

Kelainan somatik tipikal pada laki-laki dengan sindroma fragile X adalah berupa wajah yang panjang dengan telinga yang besar dan “floopy”, serta dagu dan dahi yang menonjol, bibir bawah yang menonjol. Terdapat pula makroorkidism tanpa adanya bukti disfungsi endokrin. Makroorkidism dan gambaran fisik lainnya sulit dikenali pada anak laki-laki pre pubertas. Berat lahir biasanya normal, tetapi lingkar kepala dan tingginya cenderung diatas rata-rata. Sekitar 10% pasien memiliki lingkar kepala melebihi persentil 97 dan sindroma ini merupakan penyebab tersering gigantisme serebral.

Sekitar 20% laki-laki dengan kromosom fragile-X adalah asimptomatik, dan 30% karier wanita mengala-mi kelainan ringan. Wanita dengan mutasi penuh fragile X dapat pula memperlihatkan gangguan kognisi. Frekuensi gangguan kognisi pada wanita dengan mutasi penuh adalah sekitar 50%. Hal ini mungkin disebabkan fenomena inaktivasi kromosom X. Bila kromosom X yang mengandung mutasi fragile X mengalami inaktivasi, maka efek fenotipenya dapat berkurang atau bahkan hilang sama sekali.

Kelainan neurologis pada sindroma ini berupa gangguan perkembangan bahasa dan hiperaktivitas; gangguan perkembangan motorik tampak pada 20% laki-laki. Bangkitan epilepsi terdapat pada 25-40% laki-laki. Fenotipe perilaku yang khas pada sindroma ini adalah autisme. Penderita sindroma ini sering menampakkan kurang-nya kontak mata, “tactile defensiveness”, beberapa perilaku repetitive yang stereotipi disertai gangguan sosialisasi.

Hampir semua laki-laki Fraxa memperlihatkan perilaku autistik, tetapi hanya sebagian yang memenuhi semua kriteria diagnotik autisme, baik disertai RM maupun tidak disertai RM. Gangguan perilaku lain yang sering tampak adalah sindroma hiperaktivitas, dengan ataupun tanpa autisme. Tes profil kognitif pada sindroma fragile X memperlihatkan hasil yang hampir serupa dengan hasil tes pada kasus-kasus “high functioning autism”.

Gangguan perilaku yang sama dijumpai pada wanita pembawa sifat, tetapi dengan derajat yang lebih ringan. Sebagian kecil wanita Fraxa mengalami “full-blown autism” dengan fenotipe perilaku yang khas.

Gambaran klinis lainnya memperlihatkan adanya abnormalitas struktur elastin dan displasia jaringan elastin, yaitu berupa hiperekstensibilitas sendi jari, kaki datar, dilatasi arkus aorta dan prolaps katup mitral.

Secara klinis, kita perlu mengenal ciri-ciri fenotipe yang merupakan prediktor adanya sindroma fragile X ini, yaitu: IQ kurang dari 70, riwayat keluarga yang sesuai untuk kelainan X-linked, wajah panjang, telinga besar, defisit atensi, perilaku autistik.

Diagnosis
Analisis kromosom memperlihatkan kelainan karakteristik dari kromosom X. Dengan berhasilnya identifikasi secara molekular defek gen pada sindroma fragile X, diagnosis dapat ditegakkan dengan lebih tepat.

Hasil gambar untuk fragile x jurnal
Gambar 3. Perbedaan transkripsi kromosom pada normal dan Fraxa.
Dengan kultur kromosom dapat diketahui kemungkinan adanya fragile X, dan bila hal ini ditemukan, perlu dilanjutkan dengan diagnosis molekular. Diagnosis sindroma fragile X ditegakkan bila kultur kromosom memperlihatkan adanya daerah “fragile” pada Xq 27.3 sebanyak 4% pada sel individu laki-laki atau 2% pada sel perempuan.

Pemeriksaan si-togenetika perlu dilakukan bila :
  • Analisis kromosomal mem-perlihatkan adanya abnormalitas berupa fragile X, dan 
  • Secara klinis seorang individu diduga kuat mengalami sindroma fragile X. 

Tatalaksana
Sampai saat ini tidak ada terapi spesifik untuk sindroma fragile X. Individu dengan fragile X perlu menjalani pemeriksaan perkembangan dan membutuhkan stimulasi untuk memperbaiki tingkat perkembangan yang dapat dicapainya. Beberapa peneliti pernah menggunakan stimulan untuk mengatasi hiperaktivitas berlebihan dan dilaporkan memberikan hasil yang baik. Asam folat dosis tinggi (0,5–1,5mg/kg/hari) diguna-kan oleh banyak peneliti, tetapi mekanisme kerja atau dimana peranannya belum diketahui secara pasti.

Tampaknya asam folat mempunyai efek stimulan ringan yang dapat memperbaiki kemampuan untuk berkonsentrasi dan mungkin mengurangi keadaan hiperkinetik. Beberapa laporan me-nyebutkan dugaan adanya efek menguntungkan dari asam folat terhadap gejala autistik, terutama bila diberikan pada usia prasekolah, tetapi pada beberapa kasus, bila diberikan setelah pubertas tidak ada efeknya atau malah mempunyai sedikit efek negatif.

Laki-laki dengan sindroma fragile X memerlukan bantuan khusus di sekolahnya, bekerja dengan pengawasan khusus dan biasanya jarang dapat hidup mandiri. Wanita yang terkena biasanya mempunyai kesulitan belajar yang lebih ringan.

Di New South Wales, Australia, dibuat suatu program konseling diagnosis dan genetika untuk sindroma fragile X. Selama periode 10 tahun, ternyata program ini berhasil menurunkan prevalensinya dari 2,5 menjadi 0,5 penderita laki-lki per 10.000 kelahiran.

Sekian mengenai Fraxa, tentang cara mendiagnosis serta tatalaksananya. Jika ada hal yang kurang jelas, silakan tanyakan dalam kolom komentar. Terima kasih.

Tumbuh Kembang Remaja

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang fenomena tumbuh kembang pada remaja, serta bagaimana risiko terhadap kesehatannya.



Pertumbuhan fisik seorang remaja tentu saja berbeda dengan pertumbuhan pada masa sebelumnya. Pada masa remaja, kita mengetahui bahwa pacu tumbuh yang pesat dan pertumbuhan organ-organ reproduksi. Pertumbuhan remaja laki-laki berbeda dengan remaja permpuan. Anak perempuan mengalami pacu tumbuh lebih awal dibandingkan dengan laki-laki. Agar pertumbuhan fisik optimal, anak harus mendapat makanan yang bergizi dan olahraga yang cukup.

Pertumbuhan organ-organ dalam tubuh sesuai dengan pertumbuhan bentuk tubuh seseorang. Pada orang yang pendek, akan mempunyai organ tubuh yang lebih pendek daripada orang yang tinggi dan pada perempuan mempunyai organ tubuh yang lebih kecil dari laki-laki. Pertumbuhan beberapa organ seperti hati, pankreas, ovarium dan testis masih tumbuh untuk beberapa lama setelah pertumbuhan tulang berhenti. Pertumbuhan organ akan berhenti bila telah mencapai besar sesuai dengan tubuh yang dilayani. Tampaknya, mencapai bentuk yang secara fungsional adekuat untuk keperluannya, maka rangsangan untuk tumbuh berhenti. Meskipun demikian, mekanismenya masih belum sepenuhnya diketahui, seolah-olah semua sudah diatur untuk memenuhi apa yang disebut dengan The harmony of growth.

Secara garis besar, risiko kesehatan pada remaja dibagi menjadi :
  1. Risiko biomedik (Biomedical risks)
  2. Risiko fisik (Physical risks)
  3. Risiko psikososial (Psychosocial risks)
  4. Risiko penggunaan zat-zat terlarang (Substance use)
  5. Perilaku s*xsual (S*xsual behavior)

Untuk penjelasan selengkapnya, silakan buka channel youtube kami yang menjelaskan tentang Konsep Dasar Tumbuh Kembang Remaja, jika ada hal yang kurang jelas, silakan tanyakan dalam kolom komentar. Selamat mendengarkan dan semoga bermanfaat.