Recent Posts
Konsep Dasar Emergensi Pada Anak - Bagian 1
CaDok Gawat Gawat A Kesehatan KesehatanAnakrevolusiilmiah.blogspot.com - Pendekatan klinis pada emergensi anak sangatlah penting, kerangka utama dalam emergensi anak modern berfokus pada "Early Recognition" dan "Time-Critical Intervention". Pengenalan awal dan intervensi segera menjadi kunci dalam penanganan anak dalam kondisi yang gawat dan darurat.
Anak sering mengalami hal kegawatan yang tidak segera ditangani, sehingga yang semula dapat dikompensasi menjadi tidak terkompensasi, kejadian itu membuat anak menjadi lebih rentan dalam kesakitan maupun kematian. Oleh karena itu pengenalan awal yang baik, cepat dan tepat sangat penting untuk dilakukan. Dalam deteksi dini tentu saja berbeda dengan diagnosis lengkap yang perlu pemeriksaan lanjutan yang lebih lengkap, deteksi dini mengenali kondisi kegawatan pada pasien dalam waktu kurang dari 1 menit, sehingga dapat dilakukan intervensi segera.
Pediatric Assessment Triangle (PAT)
PAT merukan salah satu "tool observasional" yang digunakan untuk mendeteksi dini kegawatan pada anak, dalam waktu kurang dari 1 menit (bahkan kurang dari 30 detik) kita dapat mengenali apakah seorang anak mengalami kegawatan atau tidak, dimana dalam PAT, kita tidak menggunakan alat medis untuk pemeriksaan.
Komponen dari PAT adalah :
1. Appearance --- TICLS. Terdiri dari : Tone, Interaction, Consolability, Gaze, Speech/Cry
2. Work of Breathing --- ReNaG. Terdiri dari : Retraction, Nasal Flaring dan Grunting
3. Circulation to Skin --- PMS. Terdiri dari : Pucat, Mottling dan Sianosis.
Intepretasi PAT :
1. Stabil (Normal) : Semua Aspek Normal
2. Gangguan Pernafasan (Respiratory Distress) : Appearance Normal, Work of Breathing Abnormal, Circulation to Skin Normal
3. Gagal Nafas (Respiratory Failure) : Appearance Abnormal, Work of Breathing Abnormal, Circulation to Skin Normal
4. Syok (Shock) : Appearance Abnormal, Work of Breathing Normal, Circulation to Skin Abnormal
5. Gangguan SSP/Metabolik : Appearance Abnormal, Work of Breathing Normal, Circulation to Skin Normal
6. Gagal Jantung dan Paru : Semua komponen Abnormal
Sebagai catatan, PAT bukan diagnosis, tetapi sebagai trigger untuk aksi yang lebih cepat (immediate action) guna mengurangi angka kesakitan dan kematian.
Demikian sekilas tentang PAT, berikutnya kita akan melanjutkan dengan Survey Primer (Primary Survey) pada Anak.
Cara Membuat Kalkulator Sederhana untuk Aplikasi Kegawatan pada Anak
Gawat KesehatanAnakrevolusiilmiah.blogspot.com
Pada pembuatan Aplikasi Kegawatan pada Anak, kami akan mencoba membantu dengan membuat 3 Kalkulator Sederhana, yaitu Bolus Cairan, Epinefrin, Defibrilasi di Aplikasi MIT App Inventor
Input utama:
➡️ Berat badan (kg)
Output:
- Bolus cairan
- Epinefrin
- Defibrilasi
- (opsional: D10, Diazepam, dll)
1. DESIGN (DI DESIGNER TAB)
Input
- TextBox
-
Rename:
txtBB
- Hint: “Masukkan berat badan (kg)”
- Button
-
Rename:
btnHitung
- Text: “Hitung”
Tambahkan:
lblBolus
lblEpi
lblDefib
2. BLOCKS (LOGIKA)
Masuk ke tab Blocks
Event utama
when btnHitung.Click
Ambil nilai berat badan
Tambahkan:
set bb to number from text txtBB.Text
(pakai blok Math + Text)
Hitung rumus
Bolus cairan
set bolus to bb * 20
Epinefrin
set epi to bb * 0.01
Defibrilasi
set defib to bb * 2
Tampilkan hasil
set lblBolus.Text to join "Bolus: " bolus " ml"
set lblEpi.Text to join "Epinefrin: " epi " mg"
set lblDefib.Text to join "Defibrilasi: " defib " Joule"
when btnHitung.Click
set bb to number(txtBB.Text)
set bolus to bb * 20
set epi to bb * 0.01
set defib to bb * 2
set lblBolus.Text to "Bolus: " + bolus + " ml"
set lblEpi.Text to "Epinefrin: " + epi + " mg"
set lblDefib.Text to "Defibrilasi: " + defib + " J"Demikian, pembuatan 3 kalkulator sederhana pada aplikasi MIT App Inventor, selanjutnya, kita akan membuat uraian terkait materi kegawatan pada Anak dan kalkulator kegawatan yang lebih kompleks.Semoga Bermanfaat.
Kesulitan Makan pada Anak dan Cara Mengatasinya
Kesehatan KesehatanAnak KesehatanRemaja Kesulitan Makan Tumbuh Kembang![]() |
| Gambar 1. Anak dapat mengalami gangguan makan. |
Kelainan Struktural :
1. Kelainan pada Naso-orofaring : Atresia choana, celah pada bibir atau palatum, sequence Pierre Robin, makroglosia, ankiloglosia.
2. Kelainan pada laring dan trakea : celah pada laring, kista laring, stenosis subglotis, laringo trakeomalacia
3. Kelainan pada esofagus : fistula trakeoesofagus, atresia/stenosis esofagus kongenital, struktur esofagus
Kelainan Neurodevelopmental :
1. Palsi serebral
2. Malformasi Arnold-Chiari
3. Myelomeningocele
4. Disautonomia familial
5. Distropi/miopati otot
6. Sindrom mobius
7. Distropi miotonus kongenital
8. Miastenia gravis
9. Distropi okulofaringeal
Kelainan Perilaku Makan :
1. Gangguan makan pada fase regulasi (0-2 bulan)
2. Gangguan makan resiprositas (2-6 bulan)
3. Anoreksia infantil (6 bulan - 3 tahun)
4. Aversi sensori
5. Gangguan makan terkait kondisi medis (comorbidities)
6. Gangguan makan paska trauma
- Kelainan kebiasaan makan
- Kelainan psikologis
- Kelainan organik, misalnya : kelainan gigi-geligi/rongga mulut, kelainan pada saluran cerna, penyakit infeksi secara umum, kelainan non-infeksi, penyakit lainnya misalnya tumor willms.
- Fase persiapan oral
- Fase oral
- Fase faringeal
- Fase oesofageal
- Bagaimana manifestasinya?
- Apakah anak sedang menderita penyakit tertentu?
- Apakah telah mempengaruhi berat badan dan pertumbuhan anak?
- Bagaimana kondisi emosi anak?
- Apakah ada stress bermakna dalam keluarga?
- Permasalahan pada mengunyah dan menelan
- Spillage (makanan yang tercecer dari mulut) yang disebabkan oleh kegagalan mengontrol lidah
- Pilih-pilih makanan (picky eater)
- Makanan dilepeh
- Penolakan makanan (food refusal)
- Jangka waktu pemberian makan yang meningkat, yaitu lebih dari 45 menit
- Tanda kelelahan dan penurunan kesadaran
- Kesukaran menelan cairan, makanan lunak, semi-solid dan makanan padat
- Tanda distres pernafasan selama pemberian makan, yakni perubahan pola pernafasan normal, bernafas dengan usaha, tanda kelelahan selama pemberian makan
- Tanda aspirasi, yaitu : penyumbatan, batuk dan tersedak makanan atau cairan, distres pernafasan, mencakup stridor dan wheezing.
- Dampak jangka pendek diantaranya : sinus bradikardia, inversi gelombang T, depresi ST, interval QT memanjang, disritmia dengan ventrikular takikardia, motilitas gastrointestinal yang lambat dan konstipasi, gambaran fungsi hati yang abnormal, peningkatan kadar urea darah, serta peningkatan risiko terbentuknya batu ginjal, lekopenia, anemia defisiensi besi dan trombositopenia.
- Dampak jangka panjang diantaranya : pubertas terlambat, pertumbuhan terlambat dan perawakan pendek, gangguan pembentukan mineral tulang (osteopenia, osteoporosis), gangguan psikologis (cemas dan depresi).
- Rawat jalan. Hal-hal yang dapat dilakukan : Menetapkan jadwal makan dan menaati jadwal tersebut. anak duduk selama makan, waktu pemberian makan dibatasi selama sekitar 15 sampai 20 menit. Menghindari pengalihan perhatian, seperti mainan atau televisi sepanjang waktu makan. Menawarkan jumlah materi makanan yang terbatas untuk masing-masing makanan. Menawarkan sedikit cairan/minuman saja, setalah anak memulai makan. Penawaran susu hanya diberikan setelah makan diselesaikan. Tidak memberikan sari buah atau penganan di tengah waktu makan. Tidak menawarkan makanan apa pun sampai jadwal makanan berikutnya. Jangan memaksa anak untuk makan. Cobalah untuk tetap tenang. Perasaan netral akan berpengaruh lebih baik, dibandingkan pernyataan frustasi atau kegembiraan yang berlebihan. Pada permasalahan anak-anak yang lebih rumit, suatu pendekatan tim dapat direkomendasikan.
- Intervensi gizi. Jika anak mengalami kurang gizi, perlu dilakukan koreksi gizi sebelum dilakukan modifikasi perilaku. Status gizi anak harus dinilai, jika status gizi kurang, maka diperlukan penilaian kebutuhan energi.
- Rawat inap. Kriteria rawat inap untuk anak dengan kesulitan makan : Kurang dari 75% berat badan ideal, atau penurunan berat badan yang berkelanjutan. Penolakan untuk makan. Lemak tubuh <10%. Denyut jantung <50x per menit siang hari; <45x per menit pada malam hari. Tekanan sistolik < 90 mmHg. Perubahan denyut nadi ortostatik <20 x/menit atau tekanan darah >10 mmHg, Temperatur <35,5, Aritmia, Sinkope, Kalium serum konsentrasi <3,2 mmol/L, Klorida serum konsentrasi <88 mmol/L, Refluks esophageal berat, Hipotermia, Risiko bunuh diri, Hematemesis, Kegagalan terhadap perawatan rawat jalan.
Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tumbuh Kembang Anak
Kesehatan KesehatanAnak KesehatanRemaja Tumbuh Kembang![]() |
| Gambar 1. Genetik sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. |
Faktor genetik merupakan modal dasar dan mempunyai peran utama dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Yang termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa. Potensi genetik yang baik, bila berinteraksi dengan lingkungan yang positif, akan membuahkan hasil yang optimal. Gangguan pertumbuhan di negara maju lebih sering disebabkan oleh faktor genetik ini, misalnya kelainan bawaan yang disebabkan oleh kelainan kromosom seperti sindrom down, sindrom turner dan lain sebagainya. Namun, di negara berkembang, gangguan pertumbuhan selain disebabkan oleh faktor genetik, juga disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang kondusif untuk tumbuh kembang anak,seperti penyakit infeksi, kurang gizi, penelantaran anak dan sebagainya, yang juga berdampak terhadap tingginya angka kematian bayi dan anak.
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai tidaknya potensi genetik. Lingkungan yang baik akan memungkinkan tercapainya potensi genetik, sedangkan yang tidak baik akan menghambatnya. Lingkunga ini merupakan lingkungan biofisikopsikososial yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.
- Ras/Suku Bangsa
- Jenis Kelamin. Dikatakan bahwa anak laki-laki lebih sering sakit dibandingkan dengan anak perempuan, kemungkinannya adalah faktor kromosom (xx pada laki-laki dan xy pada perempuan)
- Umur
- Gizi
- Perawatan Kesehatan
- Kerentanan terhadap Penyakit
- Kondisi Kesehatan Kronis
- Fungsi Metabolime
- Hormon
- Cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah
- Sanitasi
- Keadaan rumah : Struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian
- Radiasi
- Stimulasi
- Motivasi belajar
- Ganjaran ataupun hukuman yang wajar (reinforcement/reward and punishment)
- Kelompok sebaya
- Stress
- Sekolah
- Cinta dan kasih sayang
- Kualitas interaksi anak dan orang tua
- Pekerjaan/pendapatan keluarga
- Pendidikan ayah/ibu
- Jumlah saudara
- Jenis kelamin dalam keluarga
- Stabilisasi rumah tangga
- Kepribadian ayah/ibu
- Pola pengasuhan
- Adat istiadat, norma, tabu
- Agama
- Urbanisasi
- Kehidupan politik



