Showing posts with label KesehatanAnak. Show all posts
Showing posts with label KesehatanAnak. Show all posts

Konsep Dasar Emergensi Pada Anak - Bagian 1

Add Comment

revolusiilmiah.blogspot.com - Pendekatan klinis pada emergensi anak sangatlah penting, kerangka utama dalam emergensi anak modern berfokus pada "Early Recognition" dan "Time-Critical Intervention". Pengenalan awal dan intervensi segera menjadi kunci dalam penanganan anak dalam kondisi yang gawat dan darurat.



Anak sering mengalami hal kegawatan yang tidak segera ditangani, sehingga yang semula dapat dikompensasi menjadi tidak terkompensasi, kejadian itu membuat anak menjadi lebih rentan dalam kesakitan maupun kematian. Oleh karena itu pengenalan awal yang baik, cepat dan tepat sangat penting untuk dilakukan. Dalam deteksi dini tentu saja berbeda dengan diagnosis lengkap yang perlu pemeriksaan lanjutan yang lebih lengkap, deteksi dini mengenali kondisi kegawatan pada pasien dalam waktu kurang dari 1 menit, sehingga dapat dilakukan intervensi segera.


Pediatric Assessment Triangle (PAT)

PAT merukan salah satu "tool observasional" yang digunakan untuk mendeteksi dini kegawatan pada anak, dalam waktu kurang dari 1 menit (bahkan kurang dari 30 detik) kita dapat mengenali apakah seorang anak mengalami kegawatan atau tidak, dimana dalam PAT, kita tidak menggunakan alat medis untuk pemeriksaan.

Komponen dari PAT adalah :

1. Appearance --- TICLS. Terdiri dari : Tone, Interaction, Consolability, Gaze, Speech/Cry

2. Work of Breathing --- ReNaG. Terdiri dari : Retraction, Nasal Flaring dan Grunting

3. Circulation to Skin --- PMS. Terdiri dari : Pucat, Mottling dan Sianosis.

Intepretasi PAT :

1. Stabil (Normal) : Semua Aspek Normal

2. Gangguan Pernafasan (Respiratory Distress) : Appearance Normal, Work of Breathing Abnormal, Circulation to Skin Normal

3. Gagal Nafas (Respiratory Failure) : Appearance Abnormal, Work of Breathing Abnormal, Circulation to Skin Normal

4. Syok (Shock) : Appearance Abnormal, Work of Breathing Normal, Circulation to Skin Abnormal

5. Gangguan SSP/Metabolik : Appearance Abnormal, Work of Breathing Normal, Circulation to Skin Normal

6. Gagal Jantung dan Paru : Semua komponen Abnormal


Sebagai catatan, PAT bukan diagnosis, tetapi sebagai trigger untuk aksi yang lebih cepat (immediate action) guna mengurangi angka kesakitan dan kematian.

Demikian sekilas tentang PAT, berikutnya kita akan melanjutkan dengan Survey Primer (Primary Survey) pada Anak.

Cara Membuat Kalkulator Sederhana untuk Aplikasi Kegawatan pada Anak

Add Comment

 revolusiilmiah.blogspot.com


Pada pembuatan Aplikasi Kegawatan pada Anak, kami akan mencoba membantu dengan membuat 3 Kalkulator Sederhana, yaitu Bolus Cairan, Epinefrin, Defibrilasi di Aplikasi MIT App Inventor



Input utama:

➡️ Berat badan (kg)

Output:

  • Bolus cairan
  • Epinefrin
  • Defibrilasi
  • (opsional: D10, Diazepam, dll)

1. DESIGN (DI DESIGNER TAB)

Tambahkan komponen:
Input
  • TextBox
  • Rename: txtBB
  • Hint: “Masukkan berat badan (kg)”
Tombol
  • Button
  • Rename: btnHitung
  • Text: “Hitung”
Output (Label)
Tambahkan:
  • lblBolus
  • lblEpi
  • lblDefib

2. BLOCKS (LOGIKA)

Masuk ke tab Blocks


Event utama

when btnHitung.Click

Ambil nilai berat badan

Tambahkan:

set bb to number from text txtBB.Text

(pakai blok Math + Text)


Hitung rumus

Bolus cairan

set bolus to bb * 20

Epinefrin

set epi to bb * 0.01

Defibrilasi

set defib to bb * 2

Tampilkan hasil

set lblBolus.Text to join "Bolus: " bolus " ml"
set lblEpi.Text to join "Epinefrin: " epi " mg"
set lblDefib.Text to join "Defibrilasi: " defib " Joule"

FLOW FINAL BLOK

when btnHitung.Click
set bb to number(txtBB.Text)

set bolus to bb * 20
set epi to bb * 0.01
set defib to bb * 2

set lblBolus.Text to "Bolus: " + bolus + " ml"
set lblEpi.Text to "Epinefrin: " + epi + " mg"
set lblDefib.Text to "Defibrilasi: " + defib + " J"

Demikian, pembuatan 3 kalkulator sederhana pada aplikasi MIT App Inventor, selanjutnya, kita akan membuat uraian terkait materi kegawatan pada Anak dan kalkulator kegawatan yang lebih kompleks.

Semoga Bermanfaat.

Kesulitan Makan pada Anak dan Cara Mengatasinya

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang kesulitan makan pada anak. Kesulitan makan pada anak harus dikenali dengan baik, sehingga penanganan dan dampak dari kesulitan makan dapat dicegah.

Gambar 1. Anak dapat mengalami gangguan makan.

Makan merupakan kegiatan penting yang terus dilakukan setiap hari oleh manusia. Kesulitan makan dialami oleh 25-40% anak-anak. Masalah yang paling sering dijumpai adalah kolik, muntah serta menolak untuk makan. Anak dengan kesulitan makan dapat mengalami kegagalan pertumbuhan dan mengidap penyakit kronis. Beberapa permasalahan tersebut dapat saja bersifat sementara, tetapi gangguan makan lainnya (seperti menolak untuk makan yang terjadi pada 3-10% anak) cenderung persisten, sehingga membawa konsekuensi terhadap status kesehatan anak.

Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpanangan atau kelainan yang sedang terjadi pada tubuh anak.

Pada dasarnya, kesulitan makan pada anak dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori yaitu :
Kelainan struktural, kelainan neurodevelopmental dan kelainan perilaku makan, walaupun antara masing-masing kategori tersebut dapat terjadi tumpang tindih.
Kelainan Struktural :
1. Kelainan pada Naso-orofaring : Atresia choana, celah pada bibir atau palatum, sequence Pierre Robin, makroglosia, ankiloglosia.
2. Kelainan pada laring dan trakea : celah pada laring, kista laring, stenosis subglotis, laringo trakeomalacia
3. Kelainan pada esofagus : fistula trakeoesofagus, atresia/stenosis esofagus kongenital, struktur esofagus

Kelainan Neurodevelopmental :
1. Palsi serebral
2. Malformasi Arnold-Chiari
3. Myelomeningocele
4. Disautonomia familial
5. Distropi/miopati otot
6. Sindrom mobius
7. Distropi miotonus kongenital
8. Miastenia gravis
9. Distropi okulofaringeal

Kelainan Perilaku Makan :
1. Gangguan makan pada fase regulasi (0-2 bulan)
2. Gangguan makan resiprositas (2-6 bulan)
3. Anoreksia infantil (6 bulan - 3 tahun)
4. Aversi sensori
5. Gangguan makan terkait kondisi medis (comorbidities)
6. Gangguan makan paska trauma

Kesulitan makan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :
  1. Kelainan kebiasaan makan
  2. Kelainan psikologis
  3. Kelainan organik, misalnya : kelainan gigi-geligi/rongga mulut, kelainan pada saluran cerna, penyakit infeksi secara umum, kelainan non-infeksi, penyakit lainnya misalnya tumor willms.
Secara fisiologis, mekanisme menelan terdiri dari beberapa fase :
  1. Fase persiapan oral
  2. Fase oral
  3. Fase faringeal
  4. Fase oesofageal 
 Ada 5 elemen kunci untuk mengevaluasi kesulitan makan pada anak :
  1. Bagaimana manifestasinya?
  2. Apakah anak sedang menderita penyakit tertentu?
  3. Apakah telah mempengaruhi berat badan dan pertumbuhan anak?
  4. Bagaimana kondisi emosi anak?
  5. Apakah ada stress bermakna dalam keluarga? 
Secara umum, gejala kesulitan makan pada anak dapat timbul antara lain karena :
  1. Permasalahan pada mengunyah dan menelan
  2. Spillage (makanan yang tercecer dari mulut) yang disebabkan oleh kegagalan mengontrol lidah
  3. Pilih-pilih makanan (picky eater)
  4. Makanan dilepeh
  5. Penolakan makanan (food refusal)
  6. Jangka waktu pemberian makan yang meningkat, yaitu lebih dari 45 menit
  7. Tanda kelelahan dan penurunan kesadaran
  8. Kesukaran menelan cairan, makanan lunak, semi-solid dan makanan padat
  9. Tanda distres pernafasan selama pemberian makan, yakni perubahan pola pernafasan normal, bernafas dengan usaha, tanda kelelahan selama pemberian makan
  10. Tanda aspirasi, yaitu : penyumbatan, batuk dan tersedak makanan atau cairan, distres pernafasan, mencakup stridor dan wheezing. 
Dampak kesulitan makan dibagi menjadi 2 yaitu : Dampak jangka pendek dan Dampak jangka panjang
  • Dampak jangka pendek diantaranya : sinus bradikardia, inversi gelombang T, depresi ST, interval QT memanjang, disritmia dengan ventrikular takikardia, motilitas gastrointestinal yang lambat dan konstipasi, gambaran fungsi hati yang abnormal, peningkatan kadar urea darah, serta peningkatan risiko terbentuknya batu ginjal, lekopenia, anemia defisiensi besi dan trombositopenia.
  • Dampak jangka panjang diantaranya : pubertas terlambat, pertumbuhan terlambat dan perawakan pendek, gangguan pembentukan mineral tulang (osteopenia, osteoporosis), gangguan psikologis (cemas dan depresi).
Penatalaksanaan kesulitan makan pada anak
  • Rawat jalan. Hal-hal yang dapat dilakukan : Menetapkan jadwal makan dan menaati jadwal tersebut. anak duduk selama makan, waktu pemberian makan dibatasi selama sekitar 15 sampai 20 menit. Menghindari pengalihan perhatian, seperti mainan atau televisi sepanjang waktu makan. Menawarkan jumlah materi makanan yang terbatas untuk masing-masing makanan. Menawarkan sedikit cairan/minuman saja, setalah anak memulai makan. Penawaran susu hanya diberikan setelah makan diselesaikan. Tidak memberikan sari buah atau penganan di tengah waktu makan. Tidak menawarkan makanan apa pun sampai jadwal makanan berikutnya. Jangan memaksa anak untuk makan. Cobalah untuk tetap tenang. Perasaan netral akan berpengaruh lebih baik, dibandingkan pernyataan frustasi atau kegembiraan yang berlebihan. Pada permasalahan anak-anak yang lebih rumit, suatu pendekatan tim dapat direkomendasikan.
  • Intervensi gizi. Jika anak mengalami kurang gizi, perlu dilakukan koreksi gizi sebelum dilakukan modifikasi perilaku. Status gizi anak harus dinilai, jika status gizi kurang, maka diperlukan penilaian kebutuhan energi.
  • Rawat inap. Kriteria rawat inap untuk anak dengan kesulitan makan : Kurang dari 75% berat badan ideal, atau penurunan berat badan yang berkelanjutan. Penolakan untuk makan. Lemak tubuh <10%. Denyut jantung <50x per menit siang hari; <45x per menit pada malam hari. Tekanan sistolik < 90 mmHg. Perubahan denyut nadi ortostatik <20 x/menit atau tekanan darah >10 mmHg, Temperatur <35,5, Aritmia, Sinkope, Kalium serum konsentrasi <3,2 mmol/L, Klorida serum konsentrasi <88 mmol/L, Refluks esophageal berat, Hipotermia, Risiko bunuh diri, Hematemesis, Kegagalan terhadap perawatan rawat jalan. 
Demikian, sekilas tentang kesulitan makan pada anak. Kesulitan makan bukan merupakan suatu diagnosis, melainkan merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi dalam tubuh anak. Sebagai orang tua, hal tersebut perlu diketahui dan segera dilakukan intervensi atau tindakan. Sebaiknya konsultasikan kepada dokter anda apabila mengalami gangguan-gangguan tersebut. Apabila ada hal yang ingin ditanyakan, silakan isi dalam kolom komentar. Terima kasih.

Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat pada kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak sehingga dengan mengetahui faktor-faktor tersebut, kita dapat mencetak seorang anak yang dapat tumbuh kembang secara optimal.

Gambar 1. Genetik sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Secara umum terdapat 2 faktor utama yang berpengaruh terahdap tumbuh kembang anak, yaitu :
1. Faktor Genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar dan mempunyai peran utama dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Yang termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa. Potensi genetik yang baik, bila berinteraksi dengan lingkungan yang positif, akan membuahkan hasil yang optimal. Gangguan pertumbuhan di negara maju lebih sering disebabkan oleh faktor genetik ini, misalnya kelainan bawaan yang disebabkan oleh kelainan kromosom seperti sindrom down, sindrom turner dan lain sebagainya. Namun, di negara berkembang, gangguan pertumbuhan selain disebabkan oleh faktor genetik, juga disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang kondusif untuk tumbuh kembang anak,seperti penyakit infeksi, kurang gizi, penelantaran anak dan sebagainya, yang juga berdampak terhadap tingginya angka kematian bayi dan anak.
2. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai tidaknya potensi genetik. Lingkungan yang baik akan memungkinkan tercapainya potensi genetik, sedangkan yang tidak baik akan menghambatnya. Lingkunga ini merupakan lingkungan biofisikopsikososial yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.

FAKTOR LINGKUNGAN
Secara garis besar, faktor lingkungan dibagi menjadi 3, yaitu :
- Pranatal
- Perinatal
- Paskanatal

Pada kesempatan kali ini, kami akan berfokus pada faktor paskanatal. Paskanatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak diantaranya : Faktor Biologis, Faktor Lingkungan Fisik, Faktor Psikososial, Faktor Keluarga dan Adat Istiadat
A. Faktor Biologis meliputi :

  1. Ras/Suku Bangsa
  2. Jenis Kelamin. Dikatakan bahwa anak laki-laki lebih sering sakit dibandingkan dengan anak perempuan, kemungkinannya adalah faktor kromosom (xx pada laki-laki dan xy pada perempuan)
  3. Umur
  4. Gizi
  5. Perawatan Kesehatan
  6. Kerentanan terhadap Penyakit
  7. Kondisi Kesehatan Kronis
  8. Fungsi Metabolime
  9. Hormon
B. Faktor Lingkungan Fisik meliputi :
  1. Cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah
  2. Sanitasi
  3. Keadaan rumah : Struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian
  4. Radiasi
C. Faktor Psikososial
  1. Stimulasi
  2. Motivasi belajar
  3. Ganjaran ataupun hukuman yang wajar (reinforcement/reward and punishment)
  4. Kelompok sebaya
  5. Stress
  6. Sekolah
  7. Cinta dan kasih sayang
  8. Kualitas interaksi anak dan orang tua
D. Faktor Keluarga dan Adat Istiadat
  1. Pekerjaan/pendapatan keluarga
  2. Pendidikan ayah/ibu
  3. Jumlah saudara
  4. Jenis kelamin dalam keluarga
  5. Stabilisasi rumah tangga
  6. Kepribadian ayah/ibu
  7. Pola pengasuhan
  8. Adat istiadat, norma, tabu
  9. Agama
  10. Urbanisasi
  11. Kehidupan politik
Demikian faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak. Pembahasan lebih detail akan kami bahas dalam postingan-postingan selanjutnya. Jika ada hal yang ingin ditanyakan, silakan masukkan dalam kolom komentar. Terima kasih.

Konsep Perkembangan Bahasa Seorang Anak

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, bahasa merupakan salah satu perkembangan yang perlu menjadi perhatian, dalam hubungannya seorang anak berkomunikasi dengan yang lain. Perkembangan bahasa yang buruk bisa menjadi salah satu indikator gangguan perkembangan seorang anak, sehingga pengenalan lebih dini gangguan tersebut serta intervensi yang sesuai dapat membantu mengatasi gangguan perkembangan tersebut.


Bayi baru lahir mampu menyatakan kebutuhan dan keinginannya dalam bentuk yang mudah dipahami oleh orang lain, juga belum mampu memahami kata atau isyarat yang digunakan oleh orang lain. Ketidak berdayaan ini berkurang dengan cepat pada awal tahun kehidupan, pada waktu anak sudah dapat mengendalikan organ-organ tubuh yang diperlukan bagi berbagai mekanisme komunikasi.

Seperti halnya perkembangan yang lainnya, tahun-tahun pertama kehidupan sangat penting dalam perkembangan bicara anak. Landasan untuk perkembangan bahasa terletak pada masa kehidupan ini.

Definisi
Banyak orang yang mempertukarkan istilah bicara (speech) dengan bahasa (language), padahal kedua istilah tersebut tidaklah sama.
Bahasa adalah suatu sistem komunikasi yang digunakan dengan sukarela dan secara sosial disetujui bersama, dengan menggunakan simbol-simbol tertentu untuk menyampaikan dan menerima pesan dari satu orang ke orang lain.
Bicara adalah bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi atau kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan maksud.
Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk mengerti, termasuk ketrampilan visual (reading, sign language, language comprehension) dan auditory (listening comprehension).
Bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk memproduksi simbol komunikasi, luaran ini dapat juga berupa visual (writing, signing) atau auditory (speech).
Perkembangan Bahasa Normal
Hemisfer kiri merupakan pusat kemampuan berbahasa pada 94% orang dewasa kinan dan lebih dari 75% pada orang dewasa kidal. Terdapat 3 area utama pada hemisfer kiri anak yang khusus untuk berbahasa, yaitu : area Broca, korteks motorik di bagian anterior dan area Wernicke di bagian posterior.

Kemampuan bahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak, karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kelainan pada sistem lainnya, seperti kemampuan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi dan lingkungan di sekitar anak. Menurut teori neuropsikolinguistik, berbahasa adalah interaksi yang kompleks antara fungsi otak (korteks serebri), semantik dan fragmantik, fonologi, grammar dan organ yang memproduksi suara. Bila salah satu mengalami masalah, akan terjadi gangguan bicara.

Untuk diagnosis gangguan bicara, kita harus mengetahui milestones perkembangan bicar ayang normal terlebih dahulu. Pengetahuan yang luas tentang perkembangan bahasa yang normal pada anak adalah mutlak apabila kita mencari/meneliti keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa.

Untuk menganalisis bahasa dan untuk mendefinisikan kelainan bahasa, sebagian besar para ahli bahasa membagi kemampuan berbahasa menjadi 4 bidang, yaitu : fonologi, tata bahasa/grammar, semantika dan pragmatika :
  1. Fonologi. Fonologi adalah kemampuan untuk memproduksi dan membedakan bunyi yang spesifik pada bahasa tertentu.
  2. Tata bahasa. Tata bahasa merupakan aturan-aturan pada bahasa tertentu. Anak mulai belajar tatabahasa bila mereka mulai belajar bicara tentang benda, orang dan aktivitas.
  3. Semantika. Semantika adalah belajar mengenai arti kata, termasuk tentang perbendaharaaan kata-kata dan jumlah kata-kata yang diketahui anak. Jumlah perbendaharaan kata-kata dapat menjadi prediktor terhadap kesuksesan anak di sekolah kelak.
  4. Pragmatika. Pragmatika berhubungan dengan kemampuan anak menggunakan bahasanya untuk berinteraksi dengan orang lain.
Tahapan Perkembangan Bahasa
Terdapat 5 tahapan perkembangan bahasa pada anak menurut Berry MF tahun 1973 :
1. Reflektive vocalization2. Babbling3. Lalling4. Echolalia5. True Speech


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar bicara diantaranya :

1. Persiapan fisik untuk berbicara
2. Kesiapan mental untuk berbicara
3. Model yang baik untuk ditiru
4. Kesempatan untuk berpraktik
5. Motivasi
6. Bimbingan
Demikian, konsep perkembangan bahasa pada seorang anak yang mana kita perlu mengetahui tahapan-tahapan yang dilalui dalam perkembangan bahasa seorang anak serta hal-hal yang perlu "dipersiapkan" dan diperhatikan dalam tahap perkembangan bahasa tersebut.

Perkembangan Personal Sosial Seorang Anak

Add Comment
rebutanbalung.com - Sobat sehat, setelah kita mengetahui perkembangan anak dalam bidang kognitif dan motorik, kita perlu tahu juga bagaimana perkembangan anak di bidang personal sosialnya, karena kemampuan personal-sosial seorang anak tidak selalu sesuai dengan kemampuan kognitifnya. Berikut penjelasan lengkapnya mengenai personal sosial anak.


Manusia adalah makhluk sosial. Mereka mencari pengalaman dalam lingkungan sosial dan berinteraksi dengan yang lain. Pada akhir tahun pertama kehidupan, manusia memperoleh banyak pengalaman dalam perkembangan personal dan sosial.

Perkembangan Personal
Pada awal kehidupannya, seorang anak mula-mula masih bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan semakin meningkatnya kemampuan melakukan gerakan motorik dan bicara, anak terdorong untuk melakukan sendiri berbagai hal. Orang tua harus melatih usaha kemandirian anak. Perkembangan personal meliputi berbagai kemampuan yang dikelompokkan sebagai : kebiasaan (habit), kepribadian, watak dan emosi.
  1. Kebiasaan (habit). Kebiasaan dibagi menjadi kebiasaan makan, tidur, kontrol sfingter dan berpakaian.
  2. Kepribadian (personality). Kepribadian adalah aspek pada seseorang yang unik untuk setiap individu dan berbeda sejak lahir. Kepribadian mempunyai struktur yang menarik untuk suatu keadaan yang menyenangkan dari insting dasar.
  3. Watak (temperament). Watak mencerminkan karakteristik gaya emosional anak dan respons tingkah laku terhadap berbagai situasi. Ini ditentukan oleh faktor genetik dan dimodifikasi oleh lingkungan.
  4. Emosi (emotions). Emosi adalah perubahan dalam arousal level, yang ditandai oleh perubahan fisiologis seperti denyut jantung atau frekuensi nafas. Perubahan tersebut menyebabkan peningkatan kemampuan mandiri dan bersosialisasi yaitu perasaan mengerti terhadap orang lain, serta belajar menunggu untuk keadaan yang menyenangkan. Beberapa emosi yang mengalami perkembangan adalah menangis, tersenyum dan tertawa, cemas, rasa iri, marah dan menyerang.
Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial merupakan perkembangan kemampuan anak untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Mula-mula anak akan mengenal orang yang paling dekat dengan dirinya, yaitu ibunya, selanjutnya orang-orang yang serumah. Bayi dikelilingi oleh suatu jejaring sosial. Proses sensori yaitu proses untuk berinteraksi dengan lingkungan dipengaruhi oleh kebutuhan sosial bayi. Kedekatan atau ikatan bayi pada orang dewasa adalah subjek menuju fase-fase perkembangan.
  • Tahap-tahap kedekatan (attachment). Saat ketrampilan perseptif visual dan auditori mulai matur, umumnya terjadi suatu fenomena misalnya : Suara dan wajah ibu secara bertahap dibedakan oleh bayi. Bayi bisa membedakan suara ibunya dari suara orang lain.
  • Kedekatan sosial. Kedekatan sosial dibagi 2, yaitu : Kedekatan sosial dengan anak-anak dan kedekatan sosial dengan orang dewasa
  • Kedekatan dengan benda mati. Kedekatan dengan benda mati seperti mainan yang enak dipeluk adalah suatu tahap perkembangan yang penting yang mencerminkan transisi antara realitas internal dan eksternal.
Milestone perkembangan personal-sosial lebih bervariasi daripada perkembangan motorik dan kognitif, karena perkembangan personal-sosial lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan (pengasuhan).

Demikian perkembangan personal-sosial pada Anak, dengan memahami dan melakukan screening sedini mungkin perkembangan tersebut, diharapkan gangguan perkembangan personal-sosial dapat dicegah.