Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Sosok Busyro Muqoddas

Revolusi Ilmiah - Salam Sehat. Tokoh yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah Muhammad Busyro Muqoddas. Busyro Muqoddas merupakan seorang tokoh hukum Indonesia kelahiran Yogyakarta 17 Juli 1952 yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi 2011-2014.

Pendidikan beliau mulai dari TK tahun 1956 di TK ABA Suronatan, SD Muhammadiyah Ngupasan lulus tahun 1964 lanjut dengan SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 1 tahun 1968. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, beliau memutuskan untuk mengambil bidang hukum saat melanjutkan kuliahnya di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tahun 1972 dan lulus tahun 1977 meraih gelar Sarjana Hukum, selanjutnya tahun 1990 Magister Hukum juga digenggamnya setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Gajah Mada yang ditempuh sejak tahun 1985, gelar pendidikan di ilmu hukum dilengkapinya dengan gelar doctoral dari Universitas Islam Indonesia yang didapatnya tahun 2010.

Revolusi Ilmiah - Busyro Muqoddas

HAM

Selain pendidikan secara formal beliau juga mengikuti berbagai pelatihan, sebut saja Pelatihan Investigasi Pelanggaran HAM Berat yang diikuti di tahun 2004. Ketika tahun 2004 Dirjen Perlindungan HAM, Departemen Hukum dan HAM RI bersama dengan Institute of Human Rights, University of Oslo Norwegia membuat pra-pelatihan internasional bidang Hak Asasi Manusia, Conflict Transformation and Peace Promotion in Norwegia yang diselenggarakan di Bogor, Busyro juga tercatat sebagai peserta.

Selama pendidikannya di Universitas Islam Indonesia Busyro Muqoddas memiliki track record yang baik, misalnya sebagai Anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia tahun 1973-1975, di civitasnnya Busyro juga menggeluti pekerjaan di dunia pendidikan sekaligus memulai karier hukum antara lain sebagai Direktur LKBH dan Pusdiklat Universitas Islam Indonesia, Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia dan juga sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

Aktif sebagai anggota di Muhammadiyah tahun 1972 Busyro Muqoddas pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah selama 2 tahun, ayah tiga orang anak ini juga duduk sebagai Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak tahun 1985 sampai tahun 1990. Anggota Dewan Kode Etik IKADIN (Ikatan Advokat Indonesia) Yogyakarta dan juga anggota Dewan Kode Etik ICM (Indonesia Court Monitoring) Yogyakarta ini menjabat sebagai Ketua di sebuah komisi yang berwenang menjaga kehormatan hakim Komisi Yudisial selama 5 tahun sejak tahun 2005 sebelum akhirnya menggantikan Antasari Azhar, dilantik dan diambil sumpah oleh Presiden RI pada 20 Desember 2010 sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi untuk tahun 2010-2011.

PENDIDIKAN

Magister Hukum dari Fakultas Hukum, Universitas Gajah Mada, 1995
Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 1977

KARIR

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), 2010
Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia (2005-2010)
Anggota Dewan Etik Indonesia Court Monitoring (ICM) Yogyakarta (2000-2005)
Anggota dewan Kode Etik IKADIN Yogyakarta (1998-2000)
Ketua Delegasi dekan Fakultas Hukum se-Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ketua Pusat Pendidikan dan Pelatihan dan Laboratorium LKBH Universitas Islam Indonesia Fakultas Hukum, 1995-1998
Wakil Dekan I, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia hingga tahun 1990
Wakil Dekan III, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (1986-1988)
Direktur Konsultasi dan Bantuan Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, 1983.
Anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia

PENGHARGAAN

Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA) di tahun 2008

Referensi 1
Gambar 1

3 Kisah Teladan Bung Hatta

Revolusi Ilmiah - Salam Sehat

Bapak Koperasi Indonesia, Bung Hatta atau H. Mohammad Hatta adalah salah satu pahlawan Indonesia yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat 12 Agustus 1902 dan meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 (Umur 77 Tahun). Beliau bersama Bung Karno menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Menjadi salah satu tokoh penting Indonesia merupakan kebanggan sekaligus amanat yang berat, karena mau tidak mau harus bisa menjadi teladan bagi rakyat Indonesia, dan itulah yang ditunjukkan oleh Bung Hatta.

Revolusi Ilmiah - Bung Hatta tokoh nasional yang fenomenal

Kisah Teladan Bung Hatta

Banyak orang menganggap bahwa menjadi seorang tokoh nasional dapat hidup dengan mewah, terjamin semua kebutuhan hidupnya, tinggal di istana negara dan semua keinginan mudah diperoleh. Namun sangat disayangkan, bayangan dan kenyataan tersebut tidak berlaku bagi tokoh sekelas Bung Hatta, bahkan beberapa keinginan sepelenya pun tidak terpenuhi.

1. Sepatu bally

Sebuah cerita mengatakan bahwa suatu waktu Bung Hatta pergi ke luar negeri, dia masuk ke sebuah toko dan melihat ada sepatu bally, beliau pun terpesona dengan sepatu tersebut. Karena tidak cukup uang sakunya maka beliau mengurungkan niatnya untuk membeli sepatu tersebut. Memang pada masa itu sepatu bally sangat populer dan mahal, bahkan diceritakan Bung Hatta yang mengidamkan sepatu bally sampai-sampai iklan sepatu bally di koran beliau simpan, berharap suatu waktu bisa membelinya. Sampai beliau wafat pun keingingannya membeli sepatu bally tidak terwujud.

2. Koper

Sebagai wakil presiden, kunjungan luar negeri menjadi hal biasa dan umumnya pejabat yang keluar negeri membawa oleh-oleh baik berupa cindera mata, makanan khas negara tersebut maupun kenang-kenangan yang lain. Namun berbeda dengan Bung Hatta, oleh I Wangsa Widjaja, sekretaris Bung Hatta menceritakan "Beliau pergi membawa satu koper dan pulangnya pun dengan koper yang sama, beliau tidak suka menghamburkan uang dan belanja ini dan itu". Kesederhanaan adalah ciri khas dari Bung Hatta. Bahkan kunjungan ke luar negeri atau liburan yang ia jalankan adalah mengunjungi toko buku atau tempat yang ada faedah dalam menambah pengetahuannya, "Kalaupun beliau menghendaki liburan, satu-satunya hiburan beliau adalah mengunjungi toko buku dan menghabiskan waktunya diantara rak-rak buku." Cerita Wangsa.

Revolusi Ilmiah - Idealis dan sederhana ada pada sosok Bung Hatta

3. Mesin jahit

Idealisme, itulah salah satu karakter Bung Hatta. Rahmi Rachim, istri beliau sangat merasakan sosok yang idealis pada diri Bung Hatta. Pernah suatu ketika sang istri ingin sekali membeli mesin jahit, dengan ketekukan sang istri mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sampai mencukupi untuk membeli mesin jahit. Ketika hampir membeli mesin jahit, tiba-tiba Pemerintah RI pada waktu itu membuat kebijakan untuk Sanering atau pemotongan nilai mata uang Rupiah (Diturunkan hingga 10 persen), tujuan pemerintah adalah untuk mengatasi masalah ekonomi yang memburuk. Betapa terkejut dan sedihnya Rahmi mengetahui hal tersebut, akhirnya dengan keberanian Rahmi bertanya kepada Bung Hatta, "Pak, bapak kan wakil presiden, tentunya bapak tahu akan adanya sanering. Mengapa bapak tidak memberitahu ibu?". Mendengar hal tersebut, Bung Hatta dengan sikap bijaksana dan idealismenya menjawab "Ibu, itu rahasia negara. Kalau bapak beritahu kepada ibu, berarti itu bukan rahasia lagi." Jawab Beliau tegas. Bahkan seorang istri pun bagi Bung Hatta adalah orang yang harus diperlakukan adil dihadapan hukum negara.

Demikian 3 kisah teladan dari Bung Hatta, semoga dapat menginspirasi kita untuk terus melakukan perbaikan dan mengedepankan sifat kasih dan sayang kepada sesama. Bukankah manusia itu mulia dihadapan Tuhan apabila mulia juga dihadapan manusia?. Tetap Semangat dan Jaga Kesehatan. (M-ANT)

Referensi 1
Gambar 1, 2

Remaja 17 Tahun Mendapat Nobel Perdamaian 2014

Revolusi Ilmiah - Oslo

Komite Nobel mengumumkan Nobel Perdamaian 2014 diberikan kepada Malala Yousafzai dan Kailash Satyarthi. Pemberian nobel tersebut dilaksanakan di Oslo pada hari Jumat (10/10). Alasan pemberian nobel tersebut karena mereka berdua berjuang melawan penindasan terhadap anak-anak dan kaum muda, "Untuk perjuangan mereka melawan penindasan anak-anak dan kaum muda, serta hak setiap anak akan pendidikan." Ujar Komite Nobel.

Revolusi Ilmiah - Malala, pejuang pendidikan anak

Malala Yousafzai dan Kailash Satyarthi

Malala Yousafzai adalah gadis berusia 17 tahun, menjadi penerima Nobel termuda dalam sejarah. Sepak terjang gadis ini dimulai pada tahun 2012 ketika ia dengan lantang memperjuangkan hak pendidikan bagi anak. Oleh pasukan Taliban, Talala ditembak dibagian kepala karena perjuangannya dalam pendidikan untuk anak-anak perempuan.

Penerima Nobel yang lain Kailash Satyarthi dari India adalah seorang pejuang hak anak di India, beliau menerima Nobel ini dalam usia 60 tahun. Satyarthi berjuang sejak 1990an dengan aktif menentang industri India dalam mempekerjakan buruh anak, dia melakukan berbagai aksi dalam sesuai dengan tradisi Mahatma Gandhi yang menentang fokus pada ekspoitasi anak-anak untuk keuntungan finansial semata.

Revolusi Ilmiah - Malala, pejuang pendidikan anak
Pada kesempatan itu pula Komite Nobel menegaskan, ada hal penting terkait pemberian Nobel Perdamaian tersebut, "hal yang sangat penting, bahwa seorang Hindu dan seorang Muslim, seorang India dan seorang Pakistan, untuk berada dalam perjuangan bersama untuk pendidikan dan melawan ekstrimisme.” Hal tersebut didasarkan bahwa India yang mayoritas Hindu dan Pakistan yang masyoritas Islam adalah dua negara yang berseteru sejak pembentukannya.

Pada tahun ini, meskipun daftar sesungguhnya tidak diumumkan, Komite Nobel Perdamaian mencatat rekor 278 calon, termasuk Paus Fransiskus dan ginekolog Kongo Denis Mukwege, seorang ginkolog yang membuka klinik khusus untuk merawat perempuan korban perkosaan kaum pemberontak bersenjata. (mant)

Referensi 1
Gambar 1, 2

Pesona Tri Rismaharini di Washington

Revolusi Ilmiah - Washington

Pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Washington DC (8-12 Oktober 2014) dihadiri oleh tokoh-tokoh dunia, tidak ketinggalan Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Acara tersebut membahas mengenai Penciptaan lapangan kerja, pembangunan inklusif serta kemajuan-kemajuan untuk mengakhiri kemiskinan, Meningkatkan kemakmuran bersama dan Peranan investasi publik. Pada acara tersebut Tri Rismaharini menjadi salah satu pembicara seminar (Pembicara yang lain : Achref Aouadi pendiri dan pimpinan I-Watch, Robin King direktur pembangunan perkotaan dan aksesibilitas dari Lembaga Sumber Daya Dunia serta Xavier de Souza Briggs wakil presiden kesempatan ekonomi dan aset Yayasan Ford).

Revolusi Ilmiah - Walikota Tri Rismaharini di Washington DC

Keberhasilan Pembangungan Kota Surabaya

Dalam kesempatan seminar terbuka bertema Kota dan Warga : Tokoh Pembawa Perubahan untuk Pembangunan yang Inklusif, Tri Rismaharini menyampaikan bahwa keberhasilan beliau dalam mengelola Kota Surabaya adalah berkat terpenuhinya kebutuhan pokok warga, baik melalui Jalan pendidikan, Membantu para warga miskin, anak-anak terlantar serta Membenahi infrastruktur kota. Risma mengatakan bahwa keterlibatan warga Surabaya dalam proses pembangunan kota sangatlah penting, dengan peran serta mereka Kota Surabaya dapat tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan provinsi dan nasional, yaitu di angka 7,6%.

Revolusi Ilmiah - Bu Risma menjadi salah satu pembicara
Risma juga menegaskan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan yang harus didengar, menurut dia politik seharusnya melayani rakyat, bukan melayani politisi. Dalam kesempatan itu pula Risma juga berharap melalui kunjungan ini, IMF dan Bank Dunia dapat membantu mengatasi masalah transportasi di Kota Surabaya, yang mana permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah kota sendiri.

Semoga kesuksesan Tri Rismaharini dapat menjadi tolak ukur dan semangat para pejabat pemerintahan di kota masing-masing sehingga dunia pun "angkat topi" dengan keberhasilan tersebut. (mant)

Referensi 1
Gambar 1, 2

3 Semboyan Ki Hajar Dewantara

Revolusi Ilmiah - Salam Sehat
Ki Hajar Dewantara atau Raden Mas Suwardi Suryaningrat bergelar Pahlawan Nasional sesuai SK Presiden Keppres No. 305 Tahun 1959 tanggal 28 November 1959. Beliau lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 dan meninggal di Yogyakarta 26 April 1959 atau dalam usia 70 tahun. Ki Hajar merupakan salah satu aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, seorang politis dan pelopor pendidikan untuk kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda, yang mana kita tahu bahwa zaman penjajahan Belanda, kaum pribumi menjadi kaum kelas 3 (Ingat rasial 3 tingkat oleh pemerintah belanda : Kelas 1 Eropa, Kelas 2 Timur Asing dan Kelas 3 Pribumi).

Raden Mas Suwardi berasalah dari keluarga Keraton Yogyakarta, di lingkungan keraton saat itu termasuk memiliki derajat tinggi dibandingkan dengan pribumi asli atau kelas bawah (Semacam diskriminasi golongan). Beliau menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah dasar eropa/belanda), selanjutnya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) namun disayangkan beliau tidak menyelesaikan sekolahnya karena sakit. Beliau lantas bekerja sebagai penulis dan wartawan yang handal, tulisannya begitu komunikatif, keras terhadap penjajahan (antikolonial), surat kabar yang pernah beliau ikuti antara lain : Sediotomo, Midden Java, Oetoesan Hindia, De Expres, Tjahaja Timoer, Poesara dan Kaoem Moeda.

Semboyan Ki Hajar Dewantara

Selain sikap kritis beliau terhadap penjajahan, ada semboyan pendidikan yang sangat terkenal (dalam bahasa jawa) dari beliau semasa mengajar di Taman Siswa, yang ini juga menjadi inspirasi bagi pergerakan kemerdekaan berikutnya.

1. Ing ngarso sung tulodo (Di depan memberi contoh)

Di depan memberi contoh maksudnya adalah apabila kita menjadi seorang pemimpin hendaklah mampu untuk memberikan contoh atau teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya maupun orang di sekitarnya. Jadi salah satu ajaran utama dari Ki Hajar adalah masalah keteladanan.

2. Ing madyo mangun karso (Di tengah memberi semangat)

Semboyan yang kedua adalah di tengah memberi/menggugah/membangkitkan semangat. Dapat diartikan bahwa ada bentuk kemauan dan niat yang kuat, dimanapun dan kapanpun seseorang dengan berbagai profesinya harus mampu menggugah semangat orang-orang di sekelilingnya untuk meraih cita-cita yang diinginkannya. Semua itu bermanfaat untuk menciptakan suasana kondusif yang penuh kedamaian dan kesejahteraan.

3.  Tut wuri handayani (Di belakang memberi dorongan)

Tut wuri handayani berarti di belakangan memberi dorongan moral atau dorongan semangat. Hal tersebut sangat penting terutama dalam kondisi down atau jatuh. Dorongan moral dan semangat dari para pengikut mampu membangkitkan semangat para pejuang dan menjadi modal dasar seorang pemimpin guna memimpin dengan arif dan bijaksana. Satu kesatuan yang sungguh luar biasa.

Semboyan pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah bukti otentik betapa tingginya budaya nusantara ini, ajaran yang sungguh mulia dalam membangun sebuah peradaban. Kapanpun dan dimanapun apabila suatu bangsa ingin membangun peradaban yang tinggi hendaklah dia menjunjung tinggi budaya leluhur yang telah terbukti pada jaman sebelumnya. Tetap Semangat dan Jaga Kesehatan. (M-ANT)

Referensi 1
Gambar 1, 2