Mengenal Penyakit Filariasis atau Kaki Gajah

REVOLUSIILMIAH.com - Kita mengenal Filariasis dengan Kaki Gajah, merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria, dimana cacing ini ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit Filariasis bersifat menahun atau kronis dan apabila tidak diberikan pengobatan yang sesuai, dapat menimbulkan cacat menetap yang berupa Pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik pada perempuan maupun laki-laki. Secara internasional, WHO menargetkan eliminasi filariasis pada tahun 2020 melalui program The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by The Year 2020.


revolusiilmiah.com - Siklus Penyakit Filariasis
Siklus Penyakit Filariasis. (Gambar: wikipedia.org)

Keluhan Filariasis

Pada umumnya, pasien dengan filariasis mengeluhkan :
  1. Demam yang berulang kurang lebih selama 3-5 hari. Demam tersebut hilang timbul, timbul pada saat bekerja berat dan hilang pada saat istirahat
  2. Terjadi pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada perlukaan) terutama di daerah lipatan paha dan ketiak. Tampak kemerahan, terasa panas dan sakit
  3. Peradangan pada salurah getah bening yang terasa panas dan menjalar mulai pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah ujung (retrograde lymphangitis)
  4. Pembesaran pada tungkai, lengan, buah dada, kantong zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (Early Imphoma).
Pada kondisi yang lama/kronis, dimana terjadi pengurangan fungsi saluran limfe dapat menyebabkan : Pembesaran yang menetap (elephantiasis)pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti). Hal tersebut dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Perjalanan Penyakit

Ada 4 Masa yang terjadi pada filariasis, yaitu:

  1. Masa Prepaten. Masa antara masuknya Larva Infektif sampai terjadinya Mikrofilaremia, berlangsung kurang lebih 37 bulan
  2. Masa Inkubasi. Masa inkubasi merupakan masa antara masuknya Larva Infektif sampai terjadinya gejala klinis, kurang lebih berlangsung 8-16 bulan
  3. Gejala Klinik Akut. Gejala klinis yang mucul diantaranya Limfadenitis, Limfangitis yang disertai Demam dan Malaise. Umumnya unilateral
  4. Gejala Menahun. Gejala ini dapat terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama. Gejala menahun dapat menyebabkan cacat yang menggangu aktivitas penderita serta menjadi sebuah beban bagi keluarga.

Pemeriksaan Fisik

Pada saat kita melakukan pemeriksaan fisik, dapat ditemukan beberapa gejala dan tanda sebagai berikut:
  • Limfangitis dan Limfadenitis
  • Hidrokel, Limfadema, Elefantiasis dan Chyluria
  • Epedidimitis kronis, Funikulitis, Edema skrotum (laki-laki), Limfedema vulva (perempuan)

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk memastikan diagnosis filariasis yaitu:
  • Identifikasi mikrofilaria dengan sediaan darah. Pemeriksaan yang dilakukan dengan pewarnaan Giemasa atau Wright
  • Didapatkan Leukositosis dan Eosinofilia 10-30% pada sediaan darah tepi
  • Dapat pula dilakukan pemeriksaan Diethylcarbamazine Provocative Test.

Diagnosis Banding

Filariasis dapat didiganosis banding dengan:
  1. Infeksi bakteri, tromboflebitis
  2. Tuberkulosis, Lepra, Sarkoidosis

Terapi/Penatalaksanaan

Prinsip utama dalam terapi filariasis adalah untuk mencegah atau memperbaiki perjalanan penyakit, yaitu dengan cara:
  1. Memelihara kebersihan kulit
  2. Fisioterapi, terutama pada Pasien Limfedema Kronis
  3. Obat Antifilaria semisal DEC (Diethyl Carbamazine Citrate), dengan dosis 6 mg/kgBB, 3 dosis/hari setelah makan selama 12 hari
  4. Ivermektin dosis 150 ug/kgBB pada mikrofilaria W. bancrofti. Waspada pemberian untuk wanita hamil dan anak kurang dari 5 tahun
  5. Antibiotik dan Antijamur untuk mengobati dan mencegah infeksi sekunder serta berulang
  6. Antihistamin dan Kortikosteroid digunakan untuk mengatasi efek samping pengobatan serta mengurangi rasa gatal
  7. Operatif pada beberapa kasus seperti Hidrokel dan Chyluria, namun dilakukan setelah tidak ada perbaikan paska terapi konservatif.

Prognosis

Untuk filariasis, secara umum tidak mengancam jiwa.
  • Quo ad fungsionam yaitu dubia ad bonam
  • Quo ad sanationam yaitu malam
Faktor yang mempengaruhi prognosis ini adalah: Jumlah cacing dan mikrofilaria, Potensi kembang biak cacing, Infeksi ulang serta Aktivitas RES.


Referensi
  1. Permenkes 514 Tahun 2015 tentang Panduan Praktik Klinis Dokter. Hal. 42-8
  2. Soedarmo Sumarmo S.P. Garna, H. Sri Rezeki, S.H.Hindra Irawan S. Filariasis dalam Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis. Ed-. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2010:400-7.
  3. Filariasis-Gejala, Penyebab dan Mengobati. http://www.alodokter.com/filariasis. Diakses 2 November 2016 

Please Share and Comment ↓

Related Posts

Previous
Next Post »