Hukuman Pendusta di Dunia Semut

Dari kisah nyata seorang Mufti masjidil haram, yang mengisahkan tentang kesaksian uniknya dari binatang kecil,  semut. berikut kisahnya:


Pada suatu hari, aku duduk di sebuah tempat, Kupalingkan pandanganku kesana kemari melihat makhluk-makhluk ciptaan Tuhan YME. Akupun terkagum-kagum melihat segala ciptaan-Nya. Seekor semut menarik perhatianku. Dia berkeliaran di sekitarku untuk mencari sesuatu yang bisa untuk dia bawa, semut itu mencari, mencari dan mencari. Tidak merasa lelah  ataupun bosan.


Di tengah-tengah pencariannya, dia menemukan sisa bangkai belalang, tepatnya adalah kaki belalang. Diapun menyeretnya, berusaha untuk membawanya ke tempat yang telah ditentukan oleh hukum mereka di dunia semut. Dia sudah banyak berusaha, bersusah payah dalam membawa buruannya tersebut. Setelah beberapa waktu dalam kesungguhan, dia merasa tidak sanggup lagi membawanya. Lalu dia memutuskan untuk meninggalkan buruan berharga tersebut, lantas pergi ke suatu tempat yang tidak kuketahui, dan diapun menghilang.


Selang beberapa waktu, semut itu dating kembali bersama dengan sejumlah kawannya yang agak lebih besar. Di saat aku melihat kemana mereka menuju, aku tahu bahwa semut itu mengajak kawannya untuk membantu mengangkat buruannya tadi. Akupun ingin hiburan sedikit, kuambil kaki belalang tersebut, lalu kusembunyikan. Maka dia dan semut-semut lain yang bersamanya mencari kaki tersebut, mereka mencarinya kesana kemari tanpa ada hasil, hingga mereka putus asa, lalu merekapun pergi meninggalkan tempat tersebut. Setelah itu, semut yang pertama datang kembali sendirian menuju tempat semula. Sebelum dia sampai, kukembalikan kaki belalang di hadapannya.


Maka mulailah dia mengitari dan melihat di sekelilingnya. Dia menemukan kembali buruannya dan berusaha untuk membawanya lagi. Hingga apa yang dia usahakan gagal untuk kedua kalinya, dia kembali menyarah dan memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu sekali lagi. Akupun yakin bahwa dia pergi untuk memanggil kawan-kawan semut yang lain guna membantu untuk mengangkat kaki belalang yang ditemukannya tersebut. Sekian waktu ternyata benar, datanglah sekumpulan, dan saya menduga itu adalah kelompok semut yang sama saat kali pertama datang. Mereka berbondong-bondong menuju tempat tadi, akupun tertawa dengan sendirinya, lalu kuambil kaki belalang dan kusembunyikan dari mereka untuk kedua kalinya. Merekapun mencari kesana kemari, mereka mencari dengan penuh semangat. berputar kesana kemari, melihat ke kanan dan ke kiri, agar melihat buruannya tadi, akan tetapi tidak ada sesuatupun. Pada saat seperti itui, terjadilah suatu hal yang aneh. Sekumpulan semut itu berkumpul karena mungkin bosan mencari, dan diantara mereka terdapat semut yang pertama. Kemudian tiba-tiba mereka menyerangnya, lalu memotong-motongnya secara tragis di hadapanku. Dan demi Allah, aku melihat proses tersubut, aku sungguh amat terkejut melihatnya.


Apa yang terjadi membuatku takut… mereka membunuhnya… mereka memotong-motongnya di hadapanku. Aku merasa bersalah, mereka memotong-motongnya di hadapanku… dia terbunuh karena aku… mereka membunuhnya karena mereka menyangka bahwa dia telah berdusta kepada mereka. Sedemikinkah hukum yang dijalankan di dunia semut? memandang dusta itu sebagai aib, bahkan dosa besar yang pelakunya harus dihukum dengan dibunuh. Semut menganggap dusta adalah sebuah kejahatan, dan memberikan hukuman atasnya. 

Bagaimana jika dusta itu di kehidupan manusia yang membawa keburukan, atau keragu-raguan yang di belakangnya akan timbul fitnah, peperangan, dan kehancuran. Serta penderitaan rakyat banyak dikarenakan para wakil rakyat yang dipilih ternyata mendustai rakyatnya dengan korupsi, nepotisme, dll. serta pemimpin negara ini mendustai dan mendurhakai HUKUM TUHAN yang wajib diterapkan… Maka dimanakah orang yang bisa mengambil pelajaran dari semut kecil ini ? (r.a)


Edited from: votreesprit.wordpress.com

Please Share and Comment ↓

Related Posts

Previous
Next Post »